JAKARTA | Sentrapos.co.id — Akademisi Emaridial Ulza menilai klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Iran sebagai “pecundang Timur Tengah” tidak mencerminkan situasi geopolitik sebenarnya di kawasan.
Menurutnya, pernyataan tersebut lebih merupakan retorika politik dibandingkan gambaran nyata kondisi konflik di lapangan.
Trump sebelumnya menyampaikan pernyataan tersebut melalui platform Truth Social, bahkan mengklaim bahwa Iran telah menyerah kepada negara-negara tetangganya setelah tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
“Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama. Pola itu sering muncul dalam berbagai konflik internasional,” ujar Emaridial Ulza dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Strategi Tekanan Psikologis
Emaridial menjelaskan bahwa gaya komunikasi Trump sering menonjolkan klaim kemenangan sepihak sebagai strategi untuk memberi tekanan psikologis kepada lawan.
Dalam beberapa pernyataannya, Trump bahkan menyebut Iran telah meminta maaf setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel, sekaligus memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi balasan yang sangat keras jika melakukan serangan lanjutan.
Namun menurut Emaridial, situasi di lapangan justru menunjukkan konflik yang kompleks dan belum mencerminkan kemenangan mutlak dari pihak mana pun.
“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Retorika seperti ini justru berpotensi memperpanjang eskalasi konflik,” tegasnya.
Konflik Timur Tengah Dinilai Kompleks
Ia juga menyoroti sikap sejumlah negara Eropa yang tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah jauh lebih rumit daripada sekadar klaim kemenangan satu pihak.
Menurut Emaridial, konflik tersebut membutuhkan pihak penengah yang dapat mendorong dialog diplomatik antara negara-negara yang terlibat.
Indonesia Berpotensi Jadi Mediator
Dalam konteks tersebut, Emaridial menilai Indonesia memiliki peluang untuk berperan sebagai mediator dalam meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Salah satu jalur yang dapat ditempuh adalah melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta diplomasi multilateral dengan negara-negara di kawasan.
“Indonesia bisa menggalang pertemuan untuk membantu menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi,” kata Emaridial.
Ia menambahkan bahwa diplomasi multilateral dapat menjadi langkah penting untuk mendorong dialog damai dan stabilitas geopolitik di Timur Tengah, sekaligus menghindari eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. (*)




















