JAKARTA | Sentrapos.co.id – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran dengan total lebih dari 8.000 target militer yang telah dihantam.
Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, mengungkapkan operasi militer tersebut merupakan bagian dari misi bertajuk Operation Epic Fury.
“Sejauh ini, kami telah menyerang lebih dari 8.000 target militer, termasuk 130 kapal Iran,” ujar Cooper dalam pernyataan resminya.
Ia juga menambahkan bahwa Angkatan Udara AS telah menjalankan lebih dari 8.000 sorti tempur sejak operasi dimulai.
Konflik Memuncak Sejak Serangan Gabungan
Serangan besar ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS bersama Israel meluncurkan serangan gabungan ke sejumlah wilayah strategis Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar serta korban jiwa, termasuk kalangan sipil dan tokoh penting militer Iran. Situasi ini memicu respons keras dari Teheran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Trump Keluarkan Ultimatum Soal Selat Hormuz
Presiden AS, Donald Trump, turut memperkeruh situasi dengan mengeluarkan ancaman terbuka kepada Iran terkait jalur vital perdagangan dunia, Selat Hormuz.
“Jika Iran tidak membuka secara penuh Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik mereka,” tegas Trump.
Ancaman ini muncul setelah Iran membatasi perlintasan di Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer yang dilakukan AS dan Israel.
Iran Tuduh Serangan ke Kapal Sipil
Di sisi lain, Iran menuding AS dan Israel telah menyerang kapal sipil di kawasan Teluk Persia. Tuduhan tersebut disampaikan oleh juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari.
“Jika serangan terhadap kapal sipil terus berlanjut, Iran akan melakukan balasan serius,” tegasnya.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai upaya putus asa setelah tekanan militer terhadap Iran tidak membuahkan hasil signifikan.
Ancaman Eskalasi Global
Konflik yang terus meningkat ini menimbulkan kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas energi dunia. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sebagian besar distribusi minyak global.
Ketegangan yang berkepanjangan berpotensi memicu krisis energi serta memperluas konflik ke kawasan yang lebih luas.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda deeskalasi dari kedua belah pihak, sementara dunia internasional terus memantau perkembangan situasi dengan penuh kekhawatiran. (*)




















