Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

AS-Israel Klaim Lumpuhkan Militer Iran, Tapi Ancaman Masih Nyata: Rudal, Drone, hingga Dampak Ekonomi Global

68
×

AS-Israel Klaim Lumpuhkan Militer Iran, Tapi Ancaman Masih Nyata: Rudal, Drone, hingga Dampak Ekonomi Global

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran diklaim telah melumpuhkan sebagian besar kemampuan militer Teheran, terutama dalam sektor rudal balistik dan drone. Namun, para analis menilai ancaman Iran belum sepenuhnya hilang dan justru berpotensi berubah menjadi strategi jangka panjang yang lebih berbahaya.

Gedung Putih menyatakan bahwa operasi militer bertajuk Operation Epic Fury berhasil memberikan pukulan telak terhadap kekuatan militer Iran sejak dimulai pada 28 Februari 2026.

“Kemampuan rudal balistik Iran telah hancur secara fungsional. Dominasi udara kini sepenuhnya berada di tangan kami,” demikian pernyataan resmi Gedung Putih.

Presiden Donald Trump bahkan mengklaim bahwa kapasitas produksi drone Iran telah berhasil dihancurkan dalam operasi tersebut.


Serangan Iran Menurun, Tapi Tidak Berhenti

Meski intensitas serangan Iran menurun drastis, ancaman masih terus terjadi. Data menunjukkan dalam 24 jam pertama konflik, Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone. Namun pada hari ke-15, jumlah tersebut turun signifikan hingga lebih dari 90%.

Meski begitu, beberapa serangan masih berhasil menembus sistem pertahanan udara negara-negara Teluk.

“Satu rudal yang lolos saja sudah cukup untuk menimbulkan korban dan kepanikan,” kata analis keamanan kawasan.

Salah satu insiden bahkan dilaporkan terjadi di Abu Dhabi, di mana sebuah rudal menghantam kendaraan sipil dan menewaskan satu orang.


Strategi Iran Berubah: Dari Serangan Massal ke Perang Gesekan

Para ahli menilai Iran kini mengubah strategi militernya. Jika sebelumnya mengandalkan serangan besar-besaran, kini Teheran beralih ke taktik perang jangka panjang dengan serangan terbatas namun konsisten.

“Ini adalah perang gesekan. Iran mencoba membuat lawan kelelahan secara sistem pertahanan dan ekonomi,” ujar pengamat geopolitik.

Iran juga mulai mengandalkan peluncur rudal mobile yang lebih sulit dideteksi serta drone murah seperti Shahed-136 yang bisa diproduksi dalam jumlah besar.


Drone Murah, Ancaman Besar

Meski secara teknologi kalah dari sistem pertahanan Barat, drone murah Iran terbukti efektif menciptakan tekanan psikologis dan kerusakan infrastruktur.

Beberapa serangan drone dilaporkan memicu kebakaran di kawasan industri dan sekitar Bandara Internasional Dubai. Sirene peringatan juga terdengar di wilayah Israel akibat serangan lanjutan.

“Tidak perlu ratusan drone, satu saja yang lolos bisa menghancurkan rasa aman,” tegas analis keamanan Timur Tengah.


Dampak Ekonomi Global Mulai Terasa

Selain serangan militer, Iran juga dinilai memainkan strategi ekonomi untuk menekan lawan. Ketegangan di Selat Hormuz membuat ratusan kapal tertahan dan mengganggu jalur perdagangan global.

Harga minyak dunia melonjak di atas US$100 per barel, sementara produksi energi di beberapa negara Timur Tengah mengalami gangguan signifikan.

“Tekanan ekonomi bisa menjadi senjata paling efektif Iran dalam konflik ini,” ujar profesor hubungan internasional.


Gejolak Internal AS: Pejabat Mundur

Di tengah konflik, dinamika politik di Amerika Serikat juga memanas. Kepala Pusat Kontraterorisme Nasional, Joe Kent, mengundurkan diri sebagai bentuk penolakan terhadap perang.

“Saya tidak dapat mendukung perang ini. Iran bukan ancaman langsung bagi Amerika Serikat,” tulis Kent dalam pernyataannya.

Gedung Putih membantah keras klaim tersebut dan menegaskan bahwa keputusan perang didasarkan pada bukti intelijen yang kuat.


Kesimpulan: Ancaman Belum Berakhir

Meski kemampuan militer Iran mengalami penurunan signifikan, para ahli sepakat bahwa konflik ini masih jauh dari kata selesai.

Iran dinilai tetap memiliki kapasitas untuk memberikan tekanan melalui serangan terbatas, perang asimetris, dan dampak ekonomi global.

“Perang ini bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang mampu bertahan paling lama,” menjadi gambaran nyata konflik saat ini. (*)

Example 300250