Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

AS Kirim 2.500 Marinir ke Timur Tengah, Trump Kecam NATO “Pengecut” di Tengah Konflik Iran Memanas

58
×

AS Kirim 2.500 Marinir ke Timur Tengah, Trump Kecam NATO “Pengecut” di Tengah Konflik Iran Memanas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.idAmerika Serikat dilaporkan mengerahkan sekitar 2.500 marinir tambahan ke kawasan Timur Tengah di tengah eskalasi konflik dengan Iran yang kian memanas.

Langkah ini dilakukan bersamaan dengan pengiriman kapal serbu amfibi USS Boxer beserta sejumlah kapal perang pendamping, sebagai bagian dari penguatan militer di kawasan strategis tersebut.

Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengkritik sekutu-sekutu NATO yang dinilai tidak berkontribusi dalam upaya membuka kembali jalur vital energi global, Selat Hormuz.

“Sekutu-sekutu kita tidak membantu. Mereka seperti pengecut,” sindir Trump terkait sikap NATO dalam konflik ini.

Meski demikian, pejabat AS belum memastikan apakah pasukan tersebut akan diterjunkan langsung ke wilayah Iran. Namun, sejumlah sumber menyebut target potensial mencakup wilayah pesisir Iran hingga Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama negara tersebut.

Selat Hormuz Terganggu, Dampak Global Meluas

Konflik yang telah berlangsung hampir tiga pekan sejak akhir Februari ini berdampak besar terhadap stabilitas energi global. Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia kini mengalami gangguan serius.

Penutupan sebagian jalur pelayaran membuat distribusi minyak dan gas terganggu, memicu lonjakan harga energi global hingga sekitar 50 persen sejak awal konflik.

“Gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor utama lonjakan harga energi global saat ini,” demikian analisis sejumlah pengamat energi internasional.

Korban Jiwa dan Serangan Balasan Terus Bertambah

Di medan tempur, eskalasi konflik antara Iran dan Israel semakin intens. Militer Israel dilaporkan melancarkan serangan udara besar-besaran ke Teheran dan wilayah Iran tengah, menargetkan fasilitas militer dan produksi senjata.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem. Sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian besar serangan, meski ledakan tetap terdengar di sejumlah wilayah.

Total korban jiwa dilaporkan telah melampaui 2.000 orang, sebagian besar berasal dari Iran dan Lebanon.

Tekanan Politik dan Kekhawatiran Publik AS

Di dalam negeri AS, kekhawatiran publik meningkat terhadap potensi perang skala besar. Hasil survei Reuters/Ipsos menunjukkan hampir dua pertiga warga percaya pemerintah akan mengirim pasukan dalam operasi darat besar.

Namun, hanya sebagian kecil yang mendukung langkah tersebut.

Sementara itu, sejumlah negara sekutu seperti Jerman dan Prancis menegaskan perlunya penghentian konflik sebelum membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pemerintah Inggris bahkan dilaporkan telah memberikan izin penggunaan pangkalan militer bagi AS untuk mendukung operasi di kawasan tersebut.

Potensi Dampak Ekonomi Global

Eskalasi konflik ini tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang diwaspadai.

“Jika konflik terus berlanjut, dampaknya bisa meluas ke krisis energi dan ekonomi global,” menjadi peringatan para analis.

Dengan situasi yang masih dinamis, dunia kini menanti langkah lanjutan dari negara-negara besar untuk meredam konflik dan memulihkan stabilitas kawasan. (*)