Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

AS Pasang Hadiah Rp169 Miliar untuk Informasi Pejabat Militer Iran, Pemimpin Baru Mojtaba Khamenei Masuk Daftar

38
×

AS Pasang Hadiah Rp169 Miliar untuk Informasi Pejabat Militer Iran, Pemimpin Baru Mojtaba Khamenei Masuk Daftar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Namun menariknya, salah satu tokoh yang masuk daftar pencarian yakni Ali Larijani justru terlihat menghadiri aksi massa di Teheran pada Jumat (13/3/2026).

Kehadirannya dalam demonstrasi tersebut juga terlihat bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, sebagaimana terekam dalam video yang diverifikasi oleh Reuters.

Bertolak Belakang dengan Klaim Pentagon

Kemunculan Ali Larijani di ruang publik tersebut dinilai bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth.

Sebelumnya, pejabat Pentagon tersebut menyatakan bahwa kepemimpinan Iran saat ini tengah bersembunyi di bawah tanah pasca serangan yang mengguncang struktur kekuasaan negara tersebut.

Perbedaan informasi ini memperlihatkan dinamika situasi politik dan keamanan yang masih berkembang di Iran.

AS Sebut Pejabat IRGC Terlibat Operasi Global

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan bahwa tokoh-tokoh yang masuk dalam daftar pencarian tersebut memiliki peran penting dalam aktivitas IRGC di berbagai wilayah dunia.

“Orang-orang ini memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC yang merencanakan, mengorganisasi, dan mengeksekusi aksi terorisme di seluruh dunia,” bunyi pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS.

Menurut laporan Reuters pada Sabtu (14/3/2026), daftar hadiah tersebut juga mencantumkan empat pejabat tambahan, termasuk komandan IRGC serta sekretaris dewan pertahanan Iran.

Namun identitas lengkap dari beberapa pejabat tersebut belum dipublikasikan secara terbuka.

Iran Bantah Tuduhan Amerika Serikat

Sebelumnya, Amerika Serikat telah menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris asing.

Washington juga menuduh Iran berada di balik rencana pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump, yang disebut sebagai aksi balas dendam atas kematian Qassem Soleimani pada tahun 2020.

Namun pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai tuduhan politik tanpa dasar yang bertujuan membenarkan sanksi terhadap Teheran.

Situasi ini memperlihatkan bahwa hubungan antara Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam ketegangan tinggi yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan politik global. (*)