PACITAN | Sentrapos.co.id — Kabupaten Pacitan kembali diguncang gempa bumi berkekuatan 5,5 magnitudo pada akhir Januari 2026. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, wilayah yang dikenal sebagai Kota 1001 Goa tersebut tercatat telah mengalami enam kali gempa bumi, memicu kekhawatiran sekaligus pertanyaan masyarakat mengenai tingginya aktivitas seismik di kawasan tersebut.
Menanggapi hal itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika membeberkan sejumlah faktor ilmiah yang menyebabkan Pacitan kerap menjadi wilayah rawan gempa.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa secara historis dan geologis, aktivitas kegempaan di Pacitan memang tergolong tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Pacitan memang dalam lima tahun terakhir kegempaannya cukup aktif. Khusus Januari 2026 ini, total sudah terjadi enam kali gempa bumi,” ungkap Daryono saat dikonfirmasi, Kamis (29/1/2026).
Menurut Daryono, tidak ada satu penyebab tunggal yang membuat Pacitan sering diguncang gempa. Namun, secara geologis, wilayah ini berada di kawasan yang dipengaruhi beberapa sumber gempa aktif.
Salah satu faktor utama adalah kedekatan Pacitan dengan zona tumbukan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia, yang dikenal sebagai megathrust Selatan Jawa.
“Pacitan berada dekat dengan sumber gempa tumbukan lempeng atau megathrust Jawa,” jelasnya.
Selain pengaruh megathrust, keberadaan sesar dasar laut di lepas pantai selatan Pacitan juga berkontribusi besar terhadap tingginya aktivitas gempa. BMKG mencatat terdapat tiga sesar aktif di dasar laut Pacitan, yang hingga kini masih menunjukkan aktivitas seismik.
Tak hanya itu, gempa-gempa yang terjadi juga dapat dipicu oleh deformasi batuan di dalam lempeng Indo-Australia, seperti yang teridentifikasi pada gempa terbaru.
Daryono menegaskan bahwa meskipun Pacitan berada di jalur megathrust Selatan Jawa, tidak semua gempa yang terjadi berkaitan langsung dengan potensi gempa besar megathrust. Sebagian besar gempa justru dipicu oleh aktivitas sesar lokal dan deformasi internal lempeng.
BMKG pun mengimbau masyarakat Pacitan dan sekitarnya untuk tetap waspada, tidak terpancing informasi menyesatkan, serta memahami langkah-langkah mitigasi gempa bumi, seperti mengenali jalur evakuasi dan menerapkan prinsip bangunan tahan gempa.
“Kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana,” pungkas Daryono. (*)




















