Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
VIRALWISATA & KULINER

Buku Resep Hindia-Belanda 1866 Viral, Kreator Solo Hidupkan Kembali 456 Menu Kolonial

78
×

Buku Resep Hindia-Belanda 1866 Viral, Kreator Solo Hidupkan Kembali 456 Menu Kolonial

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Sebuah buku resep masakan Hindia-Belanda terbitan tahun 1866 kembali mencuri perhatian publik setelah dihidupkan oleh kreator konten asal Solo, Jonathan Susanto. Buku lawas tersebut memuat ratusan resep yang sebagian masih dikenal dalam kuliner Indonesia modern, seperti rawon, sambal goreng, hingga ayam asem garem.

Penemuan ini bermula saat Jonathan, pemilik akun TikTok @paijokece1910, melakukan riset untuk rencana pembukaan restoran berkonsep Hindia-Belanda di Solo. Saat menelusuri arsip digital Universitas Leiden dengan kata kunci “Oost-indisch”, ia menemukan buku resep terbitan 1866 tersebut.

“Awalnya saya hanya mencari referensi konsep menu restoran. Tapi setelah menemukan buku ini, arah konten saya berubah. Saya memutuskan mendokumentasikan dan menghidupkan kembali resep-resepnya,” ujar Jonathan, Sabtu (21/2).

456 Resep, dari Rawon hingga Stroop Sorbet

Menurut Jonathan, buku tersebut memuat sekitar 456 resep. Beberapa di antaranya terdengar familiar seperti sambal udang, sambal goreng telur, perkedel ikan, rawon, bestik bengali, hingga sate pentul Betawi.

Namun, ada pula resep yang kini jarang terdengar, seperti sambal brandal, ayam asem garem, waterkoeskjes, ayam zwartzuur, stroop sorbet, hingga kare Portugis.

Buku resep Hindia-Belanda pada masa kolonial umumnya ditulis dalam bahasa Belanda dan ditujukan bagi keluarga Eropa atau kalangan elite. Meski demikian, praktik memasak sehari-hari banyak dilakukan oleh juru masak pribumi. Interaksi inilah yang melahirkan perpaduan teknik dan cita rasa yang dikenal sebagai Indische keuken.

Seiring waktu, sebagian resep tersebut diwariskan dan beradaptasi dengan selera lokal sehingga tetap bertahan dalam kuliner Nusantara.

Teknik Masak dan Cita Rasa Tempo Dulu

Salah satu resep yang menarik perhatian Jonathan adalah ayam asem garem. Ia awalnya mengira hidangan tersebut serupa dengan ayam garang asam. Namun setelah diuji coba, ayam asem garem ternyata berupa ayam goreng berbumbu kuning dengan rasa lebih pekat, disajikan bersama sambal brandal bercita rasa smokey karena cabai dipanggang terlebih dahulu.

Jonathan juga menemukan perbedaan signifikan dalam teknik dan penulisan resep. Takaran belum menggunakan ukuran baku seperti gram atau mililiter, melainkan berbasis sendok, piring, atau satuan lama seperti kati.

Selain itu, penggunaan terasi cukup dominan sebagai sumber rasa gurih alami. Pada masa itu belum dikenal penyedap rasa modern.

“Sumber rasa gurih berasal dari bahan alami seperti terasi dan kaldu. Terasi sendiri mengandung glutamat alami yang menghadirkan efek umami,” jelasnya.

Meski teknik dan komposisi bumbunya berbeda, Jonathan menilai fondasi rasa masakan tersebut masih relevan dengan selera masyarakat Indonesia saat ini.

Respons Warganet dan Rencana Restoran

Unggahan proses memasak ulang resep tahun 1866 itu menuai beragam respons dari warganet. Sebagian penasaran dengan resep minuman atau kopi era kolonial, sementara lainnya mengaku hidangan tersebut identik dengan masakan turun-temurun di keluarga mereka.

Rencana pembukaan restoran Hindia-Belanda yang digagas Jonathan masih dalam tahap perencanaan dan diproyeksikan terealisasi dalam dua hingga tiga tahun mendatang, termasuk kemungkinan berlokasi di kawasan cagar budaya di Solo.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa, tetapi juga jejak sejarah dan identitas budaya yang terus hidup lintas generasi. (*CNN)

Example 300250