Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Bupati Mojokerto Tegaskan 411 Orang Keracunan MBG Soto Ayam, 77 Masih Dirawat

18
×

Bupati Mojokerto Tegaskan 411 Orang Keracunan MBG Soto Ayam, 77 Masih Dirawat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MOJOKERTO | Sentrapos.co.id – Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa memastikan jumlah korban keracunan massal akibat konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) menu soto ayam di Kabupaten Mojokerto mencapai 411 orang, terdiri dari pelajar, santri, hingga warga dewasa.

Dari total tersebut, 334 korban telah dipulangkan, sementara 77 orang masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

“Totalnya 411 pasien. Sebanyak 334 sudah pulang dan 77 masih dirawat. Itu data final dari Dinas Kesehatan,” kata Bupati yang akrab disapa Gus Barra saat meninjau korban di RSUD Prof dr Soekandar, Rabu (14/1/2026).

Koreksi Data Korban Keracunan

Pernyataan Gus Barra sekaligus meluruskan data sebelumnya yang dirilis Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto. Sebelumnya disebutkan jumlah korban mencapai 433 orang. Setelah dilakukan verifikasi dan sinkronisasi data lintas fasilitas kesehatan, jumlah korban dipastikan 411 orang.

Gus Barra juga menegaskan seluruh korban mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG menu soto ayam yang diproduksi oleh SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Pondok Pesantren Al Hidayah, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, pada Jumat (9/1/2026).

“Iya, 411 dipastikan keracunan MBG soto ayam. Menunya sama dan keluhannya juga sama,” tegasnya.

Mayoritas Korban Anak-anak

Menurut Gus Barra, mayoritas korban merupakan anak-anak usia sekolah. Namun, terdapat pula korban dari kalangan orang dewasa yang ikut mencicipi makanan MBG yang dibawa pulang oleh anak-anak mereka.

Gejala yang dialami para korban relatif seragam, yakni pusing, mual, muntah, demam, dan diare, yang mulai dirasakan sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi.

Skema Pembiayaan Pengobatan

Bupati Mojokerto juga meluruskan mekanisme pembiayaan pengobatan korban keracunan massal tersebut. Ia menegaskan bahwa pasien warga Kabupaten Mojokerto ditanggung BPJS Kesehatan, karena daerah tersebut telah menerapkan Universal Health Coverage (UHC) Prioritas.

Sementara itu, pasien dari luar daerah akan menjadi tanggung jawab Badan Gizi Nasional (BGN).

“Bagi warga Kabupaten Mojokerto otomatis tertangani BPJS. Sedangkan yang dari luar daerah, seperti santri asal Sidoarjo dan Jombang, pembiayaannya menjadi tanggung jawab BGN,” jelasnya.

Investigasi Gabungan dan Penghentian Operasional Dapur MBG

Hingga kini, investigasi gabungan masih terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti keracunan massal tersebut. Penyelidikan melibatkan Polres Mojokerto, Kodim 0815, Dinas Kesehatan, serta perwakilan BGN.

Selama proses investigasi berlangsung, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03. Dapur MBG tersebut diketahui memproduksi 2.679 porsi MBG per hari untuk 22 sekolah dan pondok pesantren di wilayah Kecamatan Kutorejo dan Mojosari.

Pemerintah daerah menegaskan, dapur MBG tersebut berpotensi dihentikan secara permanen apabila terbukti melanggar ketentuan dan standar keamanan pangan yang berlaku. *