JEMBER | Sentrapos.co.id — Dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menghadirkan menu bergizi berbahan dasar hasil laut. Uniknya, seluruh proses produksi dilakukan langsung oleh para murid melalui kolaborasi antar-Teaching Factory (Tefa) sebagai bagian dari pembelajaran vokasional berbasis proyek.
Produksi 3.000 Porsi, Sasar Siswa hingga Ibu Hamil
Kepala sekolah Kuntjoro Basuki menjelaskan, dapur MBG di sekolahnya beroperasi sejak akhir Desember 2025 dan memproduksi sekitar 3.000 porsi per hari. Penerima manfaat meliputi peserta didik dari PAUD hingga pendidikan menengah, serta balita dan ibu hamil di sebagian wilayah Jember.
“Setiap hari kami menyiapkan 3.000 porsi menu MBG. Selain untuk sekolah, kami juga menyasar balita dan ibu hamil,” ujar Kuntjoro.
Kolaborasi Antar-Tefa, dari Budidaya hingga Pengolahan
Berbeda dari dapur MBG lain, SPPG ini dikelola bergiliran oleh murid: penyiapan bahan, sanitasi, pengolahan, hingga pengemasan. Hampir seluruh Tefa terlibat. Bahan baku ikan dan udang disuplai oleh Tefa Agribisnis Budidaya Air Laut dan Payau—yang rutin memanen udang vaname kualitas ekspor. Selanjutnya, murid Tefa Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan mengolahnya menjadi menu siap saji, seperti pentol udang barbeque dan udang krispi bernilai gizi tinggi.
Respons penerima manfaat pun positif. “Menu berbahan ikan dan udang habis disantap. Untuk mencegah kejenuhan, kami terus berinovasi menu dengan pendampingan ahli gizi,” tambah Kuntjoro.
Lintas Kompetensi: Teknik Listrik hingga Sanitasi
Kolaborasi tak berhenti di dapur. Murid Teknik Instalasi Listrik turut menangani penataan instalasi teknis—mulai tungku masak, alat pengering, hingga fasilitas pendukung—memastikan operasional aman, efisien, dan higienis.
Dukungan Kemendikdasmen: Dampak Ganda MBG
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Diksi PKPLK) Tatang Muttaqin dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengapresiasi praktik ini. Menurutnya, kolaborasi antar-Tefa menunjukkan dampak ganda MBG: pemenuhan gizi sekaligus penguatan kompetensi murid melalui project-based learning yang diawasi ahli gizi dan ahli sanitasi.
“Kolaborasi SPPG idealnya diperluas lintas SMK pangan—perikanan, peternakan, pertanian, hingga tata boga. Bahkan alat pendukung dapur bisa diproduksi murid SMK,” ujar Tatang.
Ia menegaskan, MBG berpotensi menguatkan kedaulatan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas Tefa, kualitas pembelajaran, dan omzet unit produksi sekolah. (*)




















