Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAHPERISTIWA

Ratusan Petani Nganjuk Demo Bendungan Semantok, Tuntut Air Irigasi Adil: Ultimatum 2 Pekan ke BBWS

9
×

Ratusan Petani Nganjuk Demo Bendungan Semantok, Tuntut Air Irigasi Adil: Ultimatum 2 Pekan ke BBWS

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

NGANJUK | Sentrapos.co.id – Ratusan petani dari tiga desa di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk menggelar aksi demonstrasi di Bendungan Semantok, Desa Sambikerep, Selasa (31/3/2026). Mereka menuntut keadilan distribusi air irigasi yang selama ini dinilai tidak merata dan merugikan lahan pertanian.

Aksi yang diikuti petani dari Desa Sambikerep, Musirlor, dan Musirkidul ini mulai berlangsung sejak pukul 09.00 WIB. Massa datang menggunakan sepeda motor hingga mobil bak terbuka, lengkap dengan spanduk tuntutan.

“Kami HIPPA tiga desa menuntut pemenuhan kebutuhan air untuk lahan pertanian, karena kami paling dekat dengan Bendungan Semantok tapi paling jauh dari layak pemenuhan air,” tulis salah satu spanduk aksi.

Aksi berjalan dengan pengawalan ketat aparat gabungan dari Polri, TNI, dan Satpol PP. Sekitar pukul 09.45 WIB, perwakilan petani melakukan audiensi dengan pihak BBWS Brantas, didampingi Plt Kepala Dinas PUPR Nganjuk serta sejumlah pejabat terkait.

Koordinator aksi, Tri Maryono, menjelaskan bahwa ada dua tuntutan utama yang disampaikan petani. Pertama, pemisahan saluran drainase antara air dari kawasan permukiman relokasi dengan jaringan irigasi pertanian.

“Selama ini jadi satu. Saat hujan, air dari permukiman masuk ke irigasi. Dampaknya kembali ke petani, kami yang dirugikan,” tegas Tri.

Ia menambahkan, solusi jangka pendek yang diminta adalah pengerahan alat berat untuk memisahkan aliran air, sembari menunggu pembangunan saluran baru sebagai solusi permanen.

Tuntutan kedua adalah percepatan pembangunan drainase baru, perbaikan jaring pengaman (trashboom), serta pengoptimalan jadwal distribusi air ke wilayah hilir.

“Lahan terdampak mencapai sekitar 240 hektare di tiga desa,” imbuhnya.

Menanggapi tuntutan tersebut, perwakilan BBWS Brantas Bendungan Semantok, Andi Surya, memastikan langkah cepat akan segera dilakukan.

“InsyaAllah dalam dua minggu alat berat sudah datang. Bahkan kami upayakan satu minggu sudah mulai bekerja agar petani tidak kekurangan air,” ujarnya di hadapan massa.

Selain itu, disepakati pula perubahan pola distribusi air menjadi 13 hari mengalir dan 2 hari berhenti, dari sebelumnya hanya 7 hari. Kebijakan ini dinilai lebih menguntungkan petani.

Kesepakatan lain mencakup percepatan perbaikan trashboom dengan dukungan pemerintah desa serta koordinasi lanjutan terkait peningkatan jaringan irigasi yang masih dalam proses lelang.

Aksi demonstrasi berakhir sekitar pukul 12.00 WIB dengan tertib. Namun, petani memberikan ultimatum tegas.

“Jika dalam satu hingga dua minggu tidak ada realisasi, kami akan kembali turun dengan massa lebih besar,” tandas perwakilan petani.

Aksi ini menjadi sorotan penting terkait pengelolaan sumber daya air dan keberpihakan terhadap sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan daerah. (*)


Poin Utama Berita

  • Ratusan petani dari 3 desa demo di Bendungan Semantok
  • Tuntutan utama: distribusi air irigasi yang adil
  • Masalah utama: saluran drainase bercampur dengan irigasi
  • Sekitar 240 hektare lahan terdampak kekurangan air
  • BBWS Brantas janji kirim alat berat dalam 1–2 minggu
  • Pola distribusi air diubah jadi 13 hari mengalir, 2 hari berhenti
  • Petani beri ultimatum, ancam aksi lebih besar jika tak terealisasi