TANGERANG SELATAN | Sentrapos.co.id — Densus 88 Antiteror Polri melalui Direktorat Pencegahan memberikan edukasi terkait pencegahan radikalisme dan kekerasan terhadap anak dalam kegiatan yang digelar di Labschool UNJ Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Rabu (14/1/2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB ini diikuti sekitar 400 peserta, terdiri dari siswa-siswi serta guru pendamping. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BPH Labschool UNJ Cirendeu Arriesetyanto Nugroho, Kepala Sekolah Yudi Rohman, serta Kanit Binmas Polsek Ciputat Timur, AKP Kustam.
Penguatan Toleransi dan Moderasi Beragama
Sebagai narasumber, Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri yang diwakili oleh Briptu Ihsan Khairuddin, S.H. dan Briptu Sherly Rollyanisa, S.Sos. menyampaikan materi seputar wawasan kebangsaan, pentingnya sikap toleransi, serta moderasi beragama sebagai fondasi utama dalam mencegah berkembangnya paham radikal dan perilaku kekerasan di lingkungan sekolah.
Materi disampaikan secara interaktif dan edukatif agar mudah dipahami oleh peserta didik, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman.
Peran Guru dan Deteksi Dini
Dalam pemaparannya, tim Densus 88 menekankan bahwa guru dan tenaga kependidikan memiliki peran strategis dalam melakukan deteksi dini terhadap potensi radikalisme dan kekerasan pada anak. Indikator awal dapat terlihat dari perubahan sikap, pola pergaulan, hingga aktivitas digital siswa di media sosial.
Selain itu, para siswa juga dibekali pemahaman mengenai bentuk, ciri, dan dampak radikalisme serta kekerasan, baik yang bersifat fisik, verbal, maupun digital, termasuk perundungan dan ujaran kebencian di ruang siber.
Wujudkan Sekolah Aman dan Inklusif
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif di lingkungan Labschool UNJ Cirendeu untuk menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai toleransi. Edukasi sejak dini dinilai penting sebagai langkah preventif agar anak-anak tidak mudah terpapar paham radikal maupun perilaku kekerasan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya sinergi antara aparat keamanan, institusi pendidikan, dan masyarakat dalam membangun generasi muda yang berkarakter kebangsaan dan cinta damai.




















