Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
GAYA HIDUP & KOMUNITASTEKNO & GAME

Dokumen Internal Bongkar Instagram Disebut “Narkoba”, Sidang Ungkap Dugaan Desain Adiktif Meta & YouTube

62
×

Dokumen Internal Bongkar Instagram Disebut “Narkoba”, Sidang Ungkap Dugaan Desain Adiktif Meta & YouTube

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Fakta mengejutkan terungkap dalam sidang gugatan terhadap perusahaan teknologi raksasa Meta dan YouTube di Los Angeles, Amerika Serikat. Dokumen internal perusahaan mengungkap bahwa Instagram pernah disebut sebagai “narkoba” oleh karyawannya sendiri.

Laporan The Guardian mengungkap isi dokumen tersebut dalam gugatan besar yang menuding Meta dan YouTube secara sengaja merancang platform agar bersifat adiktif, khususnya bagi anak dan remaja.

Pengacara penggugat, Julia Duncan, membeberkan isi percakapan internal yang dinilai mencerminkan kesadaran perusahaan terhadap dampak produknya.

“Seorang karyawan menyebut Instagram sebagai ‘narkoba’, dan yang lain berkata, ‘pada dasarnya kami ini seperti pengedar’,” ungkap Duncan dalam persidangan.

Gugatan Massal: Libatkan 1.600 Penggugat

Kasus ini melibatkan sekitar 1.600 penggugat, termasuk ratusan keluarga dan distrik sekolah di Amerika Serikat. Mereka menilai kecanduan media sosial telah memicu berbagai gangguan mental pada anak, mulai dari depresi hingga perilaku menyakiti diri sendiri.

Dalam persidangan, penggugat menyoroti sejumlah fitur platform seperti infinite scroll, autoplay video, serta algoritma rekomendasi yang dinilai membuat pengguna terus terpaku pada layar tanpa henti.

Hakim dalam perkara ini bahkan membuka ruang bagi juri untuk menilai tidak hanya konten, tetapi juga desain platform, yang dianggap berpotensi menunjukkan unsur kesengajaan dalam menciptakan efek adiktif.

Kesaksian Korban: 16 Jam Sehari Bermedia Sosial

Kasus ini juga diperkuat oleh kesaksian seorang korban bernama Kaley (20), yang mengaku telah menggunakan media sosial sejak usia dini hingga mengalami ketergantungan berat.

Menurut laporan Reuters, Kaley mulai menggunakan YouTube sejak usia 6 tahun dan Instagram sejak usia 9 tahun.

“Saya tidak bisa, terlalu sulit hidup tanpa media sosial,” ujar Kaley dalam kesaksiannya.

Ia bahkan mengaku pernah menghabiskan hingga 16 jam sehari untuk scrolling, serta mengalami kepanikan saat tidak bisa mengakses platform tersebut.

Kaley juga mengungkap bahwa notifikasi dan jumlah “likes” memberikan sensasi menyenangkan yang membuatnya terus kembali menggunakan aplikasi.

Dampaknya, ia mengalami depresi, kecemasan, gangguan citra tubuh, hingga mulai melukai diri sejak usia 10 tahun.

Perusahaan Membantah, Sebut Klaim Tak Berdasar

Meski demikian, pihak Meta dan YouTube membantah tuduhan tersebut. Mereka menyatakan bahwa platform yang dikembangkan telah dirancang dengan mempertimbangkan keamanan pengguna, termasuk anak-anak.

Dalam sidang lanjutan, terapis Kaley juga menyebut penggunaan media sosial bukan satu-satunya penyebab kondisi mental yang dialaminya, melainkan hanya salah satu faktor pendukung.

Namun, putusan juri sebelumnya telah menyatakan Meta dan YouTube turut bertanggung jawab atas dampak adiktif terhadap pengguna muda, menjadikan kasus ini sebagai preseden penting dalam regulasi platform digital secara global. (*)