JAKARTA | Sentrapos.co.id – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mendesak penutupan permanen Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum yang terbukti menyebabkan keracunan massal di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Desakan tersebut muncul menyusul insiden keracunan yang menimpa 72 siswa dari sejumlah sekolah di wilayah Duren Sawit.
“Kami menegaskan bahwa setiap SPPG yang terbukti menyebabkan keracunan pangan harus ditutup secara permanen dan dicabut izin operasionalnya,” tegas Charles, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, langkah tegas tersebut penting sebagai bentuk efek jera sekaligus perlindungan terhadap keselamatan masyarakat, khususnya peserta didik yang menjadi sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Charles mengapresiasi langkah cepat Badan Gizi Nasional dalam menangani kasus ini. Namun ia menilai sanksi berupa pembekuan sementara belum cukup menjawab dampak serius yang ditimbulkan.
“Ini menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Penutupan permanen adalah bentuk pertanggungjawaban moral dan penegakan standar keamanan pangan,” ujarnya.
Ia juga mendorong dilakukannya audit investigatif menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok SPPG, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga distribusi makanan.
Audit tersebut, lanjutnya, harus memastikan seluruh penyelenggara mematuhi standar operasional prosedur (SOP), termasuk aspek sanitasi, higienitas, dan pengawasan mutu (quality control).
“Insiden ini bukan kasus terisolasi, tetapi alarm serius untuk evaluasi sistem pengawasan dan seleksi mitra pelaksana,” tegas Charles.
Selain itu, Komisi IX DPR RI akan memperkuat fungsi pengawasan dengan melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara lebih intensif dan sistematis.
“Negara tidak boleh menunggu korban. Pengawasan preventif harus diperketat agar program ini benar-benar memberi manfaat, bukan risiko,” tambahnya.
Kronologi Keracunan 72 Siswa
Sebelumnya, insiden keracunan massal terjadi pada Kamis (2/4/2026) saat makanan dari dapur SPPG didistribusikan ke sejumlah sekolah di Pondok Kelapa.
Sebanyak 72 siswa dari empat sekolah dilaporkan mengalami gejala keracunan, mulai dari mual, muntah, diare, hingga demam.
Para korban berasal dari SMA 91, SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 09, dan SDN Pondok Kelapa 07. Mereka sempat menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, sebagian dirawat inap dan lainnya sudah diperbolehkan pulang.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menjenguk korban menyebut dugaan awal mengarah pada salah satu menu makanan.
“Ada indikasi dari makanan yang disiapkan SPPG, kemungkinan dari menu spageti,” ungkap Pramono.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius pemerintah dan DPR, sekaligus momentum evaluasi menyeluruh terhadap program MBG agar tidak menimbulkan risiko kesehatan di masa mendatang. (*)
Poin Utama Berita
- DPR minta dapur MBG penyebab keracunan ditutup permanen
- 72 siswa di Duren Sawit jadi korban keracunan makanan
- Sanksi pembekuan dinilai tidak cukup tegas
- Audit menyeluruh rantai pasok SPPG didorong
- BPOM diminta perkuat pengawasan pangan
- Dugaan awal keracunan berasal dari menu spageti
- Kasus jadi alarm evaluasi program MBG nasional

















