Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
NASIONALPERISTIWA

El Nino “Godzilla” Ancam RI 2026! Kemarau Lebih Panjang & Kekeringan Ekstrem di Depan Mata

22
×

El Nino “Godzilla” Ancam RI 2026! Kemarau Lebih Panjang & Kekeringan Ekstrem di Depan Mata

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Indonesia bersiap menghadapi ancaman serius fenomena iklim ekstrem pada 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kemunculan El Nino dengan intensitas sangat kuat, bahkan dijuluki sebagai “El Nino Godzilla”.

Fenomena ini diperkirakan akan memperparah musim kemarau tahun ini, menjadikannya lebih panjang, kering, dan berpotensi memicu krisis air di sejumlah wilayah, terutama di bagian barat dan selatan Indonesia.

“El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena ini, termasuk potensi variasi kuat ‘Godzilla’, menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering,” ujar peneliti BRIN, Erma Yulihastin.

Kombinasi Bahaya: El Nino dan IOD Positif

Tidak hanya El Nino, ancaman diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diprediksi terjadi bersamaan. Kondisi ini menyebabkan pendinginan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa, yang berdampak langsung pada penurunan curah hujan.

Dampaknya, pola pembentukan awan berubah drastis. Curah hujan lebih banyak terjadi di Samudra Pasifik, sementara wilayah Indonesia justru mengalami kekurangan awan.

“Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan,” jelasnya.

BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang

Sementara itu, BMKG juga mengonfirmasi adanya potensi El Nino berkembang pada 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut peluang El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat, dengan kemungkinan kecil menjadi sangat kuat.

“Prediksi BMKG menunjukkan El Nino berpeluang berkembang pada semester kedua 2026 dengan intensitas lemah hingga moderat sebesar 50–80%,” ungkapnya.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tahun ini tetap akan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

“Musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya,” tegas Ardhasena.

Waspada Dampak Kekeringan dan Krisis Air

Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dan angka ini diprediksi terus meningkat pada April hingga Juni.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, hingga masyarakat untuk segera mengambil langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan ekstrem.

Selain itu, masyarakat juga diminta mengacu pada informasi resmi dari BMKG untuk menghindari kesalahan interpretasi data iklim.

Catatan Penting: Akurasi Prediksi Masih Dinamis

BMKG juga mengingatkan adanya fenomena spring predictability barrier, yaitu penurunan akurasi prediksi iklim pada periode Maret hingga Mei.

Artinya, tingkat kepastian prediksi El Nino saat ini masih dapat berubah dan akan lebih akurat pada pembaruan data bulan Mei 2026.

“Tingkat kepercayaan terhadap intensitas El Nino akan lebih tinggi pada hasil prediksi bulan Mei,” pungkas Ardhasena.

Dengan kombinasi El Nino dan IOD positif, Indonesia dihadapkan pada potensi anomali iklim signifikan. Kewaspadaan dan kesiapan lintas sektor menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan. (*)


Poin Utama Berita

  • BRIN prediksi El Nino 2026 berpotensi sangat kuat hingga dijuluki “Godzilla”
  • Musim kemarau diperkirakan lebih panjang dan kering dari normal
  • Fenomena IOD positif memperparah penurunan curah hujan di Indonesia
  • BMKG sebut peluang El Nino lemah-moderat 50–80%, kecil kemungkinan ekstrem
  • Wilayah barat dan selatan Indonesia paling terdampak kekeringan
  • 7% wilayah RI sudah masuk musim kemarau sejak Maret 2026
  • Potensi krisis air dan gangguan sektor pertanian meningkat
  • BMKG imbau masyarakat waspada dan pantau info resmi