Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
NASIONAL

Fenomena “Zero Click” Jadi Ancaman Serius Pers, Wamenkomdigi: AI Ubah Ekosistem Jurnalisme

39
×

Fenomena “Zero Click” Jadi Ancaman Serius Pers, Wamenkomdigi: AI Ubah Ekosistem Jurnalisme

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Nezar Patria) menegaskan bahwa fenomena “zero click” kini menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan industri pers nasional, seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Hal tersebut disampaikan Nezar Patria saat memberikan pemaparan dalam Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2026 yang digelar di Bogor, Jumat (30/1/2026).

Menurut Nezar, kehadiran AI telah mengubah secara fundamental wajah jurnalisme global, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi berita. Transformasi digital ini memunculkan tantangan baru yang tak bisa dihindari oleh insan pers.

AI dan Pergeseran Kendali Distribusi Berita

Nezar menjelaskan, industri media tidak hanya menghadapi pergeseran dari media cetak ke digital, tetapi juga dominasi platform berbasis algoritma dan AI yang kini mengendalikan arus distribusi informasi.

“Kita sedang menghadapi fenomena zero click, di mana publik cukup membaca ringkasan berita dari AI tanpa perlu mengunjungi sumber aslinya,” ujar Nezar.

Fenomena zero click merujuk pada kondisi ketika pembaca memperoleh informasi langsung dari mesin pencari atau platform berbasis AI—seperti ringkasan otomatis—tanpa harus mengklik tautan menuju situs resmi media pers.

Trafik Media Turun, Optimisme Jurnalisme Melemah

Nezar menilai, kecanggihan AI yang mampu menyajikan konten informatif secara instan telah menggerus peran media sebagai pintu utama informasi. Dampaknya, trafik media digital mengalami penurunan signifikan yang berimplikasi langsung terhadap keberlanjutan bisnis pers.

“Akses arus berita saat ini banyak dikendalikan oleh platform yang bekerja dengan AI, bukan lagi sepenuhnya oleh redaksi media,” tegasnya.

Ia mengutip hasil riset Reuters Institute bekerja sama dengan University of Oxford yang menunjukkan penurunan optimisme pelaku media terhadap masa depan jurnalisme. Bahkan, dalam riset tersebut disebutkan trafik media digital global turun lebih dari 40 persen, seiring meningkatnya konsumsi informasi melalui layanan AI.

Tantangan Etika dan Masa Depan Pers

Nezar mengingatkan bahwa kondisi ini bukan sekadar tantangan teknologi, tetapi juga tantangan etika, ekonomi, dan kedaulatan informasi. Jika tidak diantisipasi, industri pers berisiko kehilangan kontrol atas karya jurnalistiknya sendiri.

“Ketika publik tidak lagi datang ke media, maka keberlanjutan jurnalisme profesional ikut terancam. Ini harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan pers,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Nezar, mendorong insan pers untuk beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip jurnalisme, memperkuat kualitas, verifikasi, serta membangun model bisnis baru yang relevan di era AI. *