JAKARTA | Sentrapos.co.id – Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf), Agustini Rahayu, menilai film “Pelangi di Mars” menjadi bukti keberanian sineas Indonesia dalam mengeksplorasi genre fiksi ilmiah (science fiction) yang selama ini masih jarang digarap dalam industri perfilman nasional.
Menurut Agustini, kehadiran film tersebut menunjukkan bahwa industri film Indonesia terus berkembang, baik dari sisi kreativitas cerita maupun pemanfaatan teknologi produksi yang semakin modern.
“Film Pelangi di Mars menunjukkan keberanian sineas Indonesia dalam mengeksplorasi genre fiksi ilmiah, sekaligus memanfaatkan teknologi produksi yang inovatif,” ujar Agustini.
Ia menambahkan bahwa perkembangan ini menjadi indikasi semakin kuatnya kolaborasi ekosistem industri kreatif nasional.
Disutradarai Upie Guava
Film keluarga bergenre science fiction ini disutradarai oleh Upie Guava dan diproduksi oleh Mahakarya Pictures.
Cerita film mengikuti perjalanan seorang anak perempuan bernama Pelangi, yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di planet Mars.
Dalam kisahnya, Pelangi menjalani petualangan bersama robot-robot sahabatnya untuk mencari mineral langka yang diyakini dapat menjadi harapan baru bagi masa depan Bumi.
Tayang Lebaran 2026
Sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan industri film nasional, Kemenekraf/Bekraf menggelar pemutaran khusus (intimate screening) film tersebut pada Jumat (13/3/2026) di Plaza Senayan XXI, Jakarta.
Acara tersebut menjadi momentum untuk menyoroti perkembangan industri perfilman nasional yang dinilai semakin inovatif dan kreatif.
Film “Pelangi di Mars” dijadwalkan mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Maret 2026, dan diharapkan menjadi pilihan tontonan keluarga selama libur Lebaran.
Gunakan Teknologi Extended Reality (XR)
Salah satu keunggulan film ini adalah pemanfaatan teknologi Extended Reality (XR) berbasis Unreal Engine.
Teknologi tersebut memungkinkan penggabungan adegan live action dengan lingkungan digital secara real-time selama proses produksi film.
Pemanfaatan teknologi ini menunjukkan bahwa industri film Indonesia kini tidak hanya berkembang dari sisi cerita, tetapi juga dari inovasi teknis dan kualitas produksi.




















