JAKARTA | Sentrapos.co.id — Sutradara Joko Anwar sukses membawa warna humor dan satire khas Indonesia ke panggung internasional melalui film Ghost in the Cell. Film tersebut mencuri perhatian saat pemutaran perdana dunia di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026.
Dalam penayangan tersebut, Joko hadir bersama produser Tia Hasibuan serta dua pemeran utama, Abimana Aryasatya dan Endy Arfian.
Meski akhirnya menuai pujian, Joko mengaku sempat diliputi kekhawatiran sebelum film diputar di hadapan penonton global.
“Kita waktu itu sangat khawatir banget, karena jokenya kan Indonesia banget. Takut tidak diterima di Berlin dan berdampak ke citra Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Deg-degan Sebelum Tayang
Rasa tegang bahkan sudah dirasakan sejak sebelum pemutaran dimulai. Joko mengaku sulit menikmati momen karena khawatir dengan respons audiens internasional.
“Bahkan ketika melihat poster besar di jalan, kita tidak bisa bangga dulu karena deg-degan banget,” tambahnya.
Hal serupa dirasakan Abimana Aryasatya yang mempertanyakan apakah humor dan cerita dalam film tersebut dapat diterima lintas budaya.
“Penontonnya campur banget, dari berbagai usia dan negara. Saya sempat berpikir, apakah ini akan nyambung?” ungkap Abimana.
Tawa Penonton Pecah Sepanjang Film
Namun, kekhawatiran tersebut terjawab saat film mulai diputar. Penonton internasional ternyata mampu memahami dan menikmati humor yang disajikan, bahkan tertawa sepanjang film.
“Dari awal sampai akhir itu ketawa terus. Bahkan bagian yang di Indonesia dianggap biasa saja, di sana justru pecah,” kata Joko.
Berlinale pun menjadi ajang pembuktian bahwa karya dengan identitas lokal tetap bisa diterima secara global.
Kekuatan Cerita Autentik
Menurut Abimana, kekuatan film ini terletak pada perpaduan berbagai gaya komedi, mulai dari humor khas Indonesia, nuansa Asia, hingga satire yang bersifat universal.
“Saat pesan sarkas disampaikan, ternyata sangat relate dengan mereka. Ternyata keresahan itu universal,” ujarnya.
Joko Anwar menegaskan, pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa karya autentik justru memiliki daya jangkau global yang lebih luas.
“Kalau kita bikin film yang autentik Indonesia, itu justru jadi universal. Karena mereka melihat masalah yang sama,” pungkasnya.
Keberhasilan ini menandai langkah besar perfilman Indonesia dalam menembus pasar internasional, sekaligus memperkuat posisi film nasional di kancah global. (*)
Poin Utama Berita
- Film Ghost in the Cell tayang perdana di Berlinale 2026
- Joko Anwar sempat khawatir humor Indonesia tak diterima global
- Penonton internasional justru tertawa sepanjang film
- Abimana Aryasatya akui audiens lintas budaya jadi tantangan
- Humor lokal dan satire universal jadi kekuatan utama film
- Berlinale jadi ajang uji pasar global pertama
- Film Indonesia terbukti bisa diterima secara internasional
- Autentisitas cerita jadi kunci daya tarik global

















