Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
PERISTIWASOSIAL POLITIK

Halalbihalal PDI-P Jatim: Tegaskan Kedekatan dengan NU, Said Abdullah Soroti Politik Ijo-Abang hingga Era Post-Truth

18
×

Halalbihalal PDI-P Jatim: Tegaskan Kedekatan dengan NU, Said Abdullah Soroti Politik Ijo-Abang hingga Era Post-Truth

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SURABAYA | Sentrapos.co.id – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur menggelar acara halalbihalal dalam momentum Syawal 1447 Hijriah dengan pesan kuat: mempertegas kedekatan historis dan ideologis antara PDI-P dan Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua DPD PDI-P Jatim, Said Abdullah, menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan basis sosial-politik “ijo-abang”—istilah yang menggambarkan perpaduan kekuatan santri (NU) dan nasionalis (PDI-P).

“Santri adalah cerminan kekuatan NU, sementara abang adalah kekuatan nasional PDI-P. Keduanya menjadi akar politik hingga ke kampung-kampung di Jawa Timur,” ujar Said, Minggu (12/4/2026).

Ijo-Abang: Akar Politik yang Melebur

Mengacu pada pemikiran Clifford Geertz, Said menjelaskan bahwa pembelahan sosial antara santri dan abangan yang muncul sejak era 1950-an kini mulai melebur.

Dalam sejumlah survei nasional, pemilih berbasis NU disebut banyak menyalurkan dukungannya kepada PDI-P.

“Karena itu, PDI-P, khususnya di Jawa Timur, tidak akan pernah meninggalkan NU,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kesamaan kondisi sosial antara kelompok santri dan abangan yang dinilai menghadapi tantangan serupa, seperti kemiskinan, keterbatasan pendidikan, hingga akses pekerjaan.

Misi Sosial dan Politik Berjalan Seiring

Said menegaskan, NU memiliki peran penting dalam pemberdayaan umat, sementara PDI-P berperan dalam perjuangan kebijakan di ranah politik.

Keduanya dinilai memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Nilai ke-NU-an yang mengusung Islam wasathiyah—moderat, adil, dan toleran—juga menjadi pedoman politik PDI-P,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa politik harus menghadirkan Islam yang damai dan tidak menakutkan, khususnya bagi kelompok minoritas.

“Keislaman harus memberi rahmat dan kedamaian, bukan ketakutan,” tambahnya.

Halalbihalal: Warisan Persatuan Bangsa

Said juga mengulas sejarah halalbihalal yang diperkenalkan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah kepada Presiden Soekarno pada 1948.

Tradisi tersebut lahir sebagai solusi untuk meredam konflik politik dan memperkuat persatuan bangsa pasca kemerdekaan.

“Para tokoh politik akhirnya duduk satu meja. Ini warisan luar biasa yang harus terus kita jaga,” ungkapnya.

Kritik Era Post-Truth dan Bahaya Kepalsuan

Dalam kesempatan itu, Said menyoroti fenomena era post-truth yang dinilai semakin mengaburkan batas antara kebenaran dan kepalsuan, terutama di media sosial.

“Hari ini kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang palsu. Media sosial sering menjadi topeng kepalsuan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya tabayun, silaturahmi, serta kejernihan berpikir sebagai benteng menghadapi arus informasi yang menyesatkan.

Ajak Tokoh NU Bergabung dalam Politik PDI-P

Said juga membuka ruang bagi tokoh NU untuk berperan dalam politik bersama PDI-P.

Menurutnya, keterlibatan ulama dan tokoh pesantren dapat memperkuat dakwah sekaligus perjuangan kesejahteraan rakyat.

“Kami berharap para kiai, gus, bu nyai, dan ning ikut berijtihad politik bersama PDI-P,” katanya.

Acara halalbihalal ini pun menjadi simbol kuat sinergi antara kekuatan keagamaan dan nasionalisme dalam menjaga persatuan serta memperjuangkan keadilan sosial di Indonesia. (*)


Poin Utama Berita

  • PDI-P Jatim gelar halalbihalal di momen Syawal 1447 H
  • Tegaskan kedekatan historis dan ideologis dengan NU
  • Said Abdullah soroti konsep politik “ijo-abang”
  • Pembelahan santri-abangan disebut mulai melebur
  • PDI-P dan NU dinilai punya misi sama: kesejahteraan rakyat
  • Halalbihalal diangkat sebagai warisan persatuan bangsa
  • Kritik era post-truth dan bahaya kepalsuan informasi
  • Ajak tokoh NU aktif dalam politik bersama PDI-P