Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISNASIONALPERISTIWA

Harga BBM Non Subsidi Berpotensi Naik per 1 April 2026, Pertamax Bisa Tembus Rp2.000/Liter Lebih Mahal

15
×

Harga BBM Non Subsidi Berpotensi Naik per 1 April 2026, Pertamax Bisa Tembus Rp2.000/Liter Lebih Mahal

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi diperkirakan tak terhindarkan mulai 1 April 2026. Lonjakan harga minyak dunia serta membengkaknya beban kompensasi energi disebut menjadi pemicu utama penyesuaian tersebut.

Pada awal pekan ini, harga minyak global kembali melonjak tajam seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Per Senin (30/3/2026) pukul 09.40 WIB, harga minyak Brent tercatat mencapai US$116,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$102,88 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan dalam beberapa hari terakhir. Dibandingkan Jumat (27/3/2026), Brent naik dari US$112,57 per barel dan WTI dari US$99,64. Bahkan sejak 23 Maret 2026, harga Brent telah melonjak dari kisaran US$99,94 hingga kini menembus US$116 per barel.

“Lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang mendorong potensi kenaikan BBM non subsidi di dalam negeri.”

Kenaikan BBM Diprediksi Rp1.500–Rp2.000 per Liter

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memperkirakan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex akan naik sekitar Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter.

Menurutnya, tekanan terbesar berasal dari meningkatnya kompensasi yang harus ditanggung pemerintah kepada PT Pertamina (Persero).

“BBM non subsidi diperkirakan naik Rp1.500–Rp2.000 per liter. Kenaikan ini dipicu melonjaknya kompensasi pemerintah ke Pertamina,” ujar Bhima.

Ia menambahkan, tanpa realokasi besar dalam APBN, selisih antara harga keekonomian dan harga jual akan semakin sulit ditutup.

Jika harga tidak disesuaikan, risiko justru akan dialami oleh Pertamina yang harus menanggung beban keuangan yang semakin berat.

“Jika tidak disesuaikan, risiko cashflow Pertamina bisa mengalami tekanan serius,” tegasnya.

Dampak ke Inflasi dan Harga Pangan

Bhima mengingatkan, kenaikan BBM tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga akan merambat ke berbagai sektor lain, terutama harga pangan.

Ia memproyeksikan inflasi berpotensi melonjak hingga 6–7 persen pada April 2026 jika kenaikan harga BBM benar-benar terjadi.

“Dampaknya akan meluas ke inflasi pangan. Inflasi bisa tembus 6–7 persen jika tidak ada mitigasi yang tepat,” ungkapnya.

Selain itu, Indonesia dinilai belum memiliki strategi mitigasi krisis energi yang kuat dibandingkan negara lain, sehingga rentan terhadap gejolak global.

Ancaman Kenaikan BBM Subsidi

Lebih jauh, tekanan fiskal yang terus meningkat juga membuka peluang adanya penyesuaian harga BBM subsidi ke depan.

Jika harga minyak dunia tetap tinggi di kisaran US$90 hingga US$115 per barel, maka ruang fiskal pemerintah akan semakin terbatas.

“Ini bisa menjadi awal dari tekanan yang lebih besar. Tanpa kebijakan strategis, risiko kenaikan BBM subsidi akan terbuka,” jelas Bhima.

Kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk segera menyiapkan langkah antisipatif guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. (*)


Poin Utama Berita

  • Harga BBM non subsidi diprediksi naik mulai 1 April 2026
  • Kenaikan dipicu lonjakan harga minyak dunia hingga US$116/barel
  • Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi naik Rp1.500–Rp2.000/liter
  • Beban kompensasi pemerintah ke Pertamina meningkat signifikan
  • Risiko inflasi naik hingga 6–7 persen pada April 2026
  • Potensi kenaikan BBM subsidi jika tekanan fiskal berlanjut