Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
HEADLINE NEWSINTERNASIONALPERISTIWA

Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Konflik Timur Tengah Memanas dan Ancaman Selat Hormuz Picu Lonjakan

22
×

Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Konflik Timur Tengah Memanas dan Ancaman Selat Hormuz Picu Lonjakan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level tertinggi sejak 2022, dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah serta gangguan pasokan global.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, kontrak berjangka Brent untuk Mei ditutup naik US$3,54 atau 3,26 persen ke level US$112,19 per barel, menjadi posisi tertinggi sejak Juli 2022. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk April ditutup menguat US$2,18 atau 2,27 persen ke level US$98,32 per barel.

Kenaikan harga ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah Irak menyatakan keadaan kahar (force majeure) di sejumlah ladang minyak yang dikelola perusahaan asing.

Selain itu, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus memanas, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

“Potensi pembalikan cepat harga energi tidak mungkin terjadi karena kerusakan telah terjadi pada produksi,” ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

Ketegangan semakin meningkat seiring adanya serangan terhadap infrastruktur energi Iran serta respons militer yang meluas ke kawasan Timur Tengah, termasuk negara-negara produsen minyak utama.

Situasi ini diperparah dengan potensi terganggunya jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

“Selama aliran minyak melalui Selat Hormuz terbatas, harga minyak cenderung terus naik,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

Di sisi lain, Pemerintah Amerika Serikat juga mempertimbangkan berbagai langkah strategis, termasuk pelepasan cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasokan global.

Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, memperingatkan bahwa pemulihan pasokan energi di kawasan Teluk dapat memakan waktu hingga enam bulan.

Lonjakan harga minyak ini berpotensi memberikan dampak luas, termasuk tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM), inflasi global, hingga stabilitas ekonomi negara-negara importir energi seperti Indonesia.

Dengan kondisi geopolitik yang belum mereda, para analis memproyeksikan harga minyak dunia masih akan bertahan tinggi dalam waktu dekat. (*)