BANDUNG BARAT | Sentrapos.co.id — Operasi pencarian dan pertolongan korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, memasuki hari keenam pada Kamis (29/1/2026). Hingga kini, 27 orang dilaporkan masih tertimbun, sementara proses pencarian terus terkendala cuaca buruk dan kondisi medan yang labil.
Direktur Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Laksma TNI Y. Bramantyo N, mengatakan cuaca ekstrem dan pergerakan tanah yang belum stabil membuat tim SAR belum bisa bekerja maksimal.
“Permasalahannya di kondisi cuaca dan alam, sehingga upaya pencarian belum bisa dilakukan secara optimal,” ujar Bramantyo, Kamis (29/1/2026).
53 Jenazah Dievakuasi, Proses Identifikasi Berlanjut
Hingga Rabu (28/1/2026) malam, Tim SAR Gabungan telah mengevakuasi total 53 jenazah dari lokasi longsor. Hal tersebut dikonfirmasi Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun.
“Korban jiwa yang berhasil dievakuasi sampai saat ini berjumlah 53 orang,” katanya.
Dari jumlah tersebut, 38 jenazah telah berhasil diidentifikasi, sementara sisanya masih dalam proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat.
Pengungsi Dipindahkan ke Hunian Sementara
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan para pengungsi akan dipindahkan dari lokasi pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu ke hunian sementara.
Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan, terdapat dua skema yang disiapkan pemerintah:
-
Hunian sementara yang dibangun pemerintah, atau
-
Dana tunggu hunian sebesar Rp600 ribu per keluarga per bulan bagi warga yang memilih mencari tempat tinggal sementara secara mandiri.
Para pengungsi direncanakan menempati hunian sementara selama tiga bulan, terhitung Januari hingga Maret 2026, sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Masa hunian sementara dapat diperpanjang apabila pembangunan belum rampung.
23 Anggota TNI Marinir Turut Tertimbun Longsor
Di tengah operasi SAR, terungkap pula bahwa 23 anggota TNI Angkatan Laut dari kesatuan Marinir turut menjadi korban longsor saat menjalani latihan di sekitar lokasi kejadian.
Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali membenarkan informasi tersebut.
“Memang terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor. Empat di antaranya sudah ditemukan meninggal dunia, sementara yang lainnya masih dalam pencarian,” ujarnya.
Para prajurit tersebut dilaporkan tengah melaksanakan latihan sejak Jumat malam. Longsor terjadi pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.30 WIB, menyebabkan komunikasi terputus.
Duka Keluarga Korban dan Pencarian Mandiri
Di Pos Postmortem DVI Polda Jawa Barat, keluarga korban terus menanti kepastian nasib anggota keluarga mereka. Setiap kedatangan ambulans pembawa kantong jenazah disambut harap dan cemas.
Adi, salah satu orang tua korban, akhirnya menemukan putrinya Delisa (11) pada Senin (26/1/2026) setelah berhari-hari ikut melakukan pencarian secara mandiri di lokasi longsor.
“Sudah tahu itu Delisa karena masih memakai gelang hitam,” ungkap kerabatnya, Ai Jubaedah.
Rencana Relokasi dan Status Darurat Bencana
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana merelokasi warga dari kawasan rawan longsor di Cisarua. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai kawasan perbukitan dengan aktivitas pertanian intensif tersebut berisiko tinggi.
“Daerah ini sebaiknya dihijaukan kembali. Warga harus direlokasi karena potensi longsor sangat tinggi,” tegasnya.
Pemprov Jabar juga menyiapkan bantuan Rp10 juta bagi korban selamat dan santunan Rp25 juta per keluarga bagi korban meninggal dunia.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat proses penanganan dan mobilisasi sumber daya.
Faktor Geologi dan Curah Hujan Tinggi
Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut longsor di Cisarua dipicu oleh kombinasi kondisi geologi, lereng curam, tata guna lahan, serta curah hujan tinggi yang berlangsung lama.
Wilayah tersebut masuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) Menengah, yang sangat rentan mengalami longsor saat musim hujan.
Hingga kini, Tim SAR Gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat terus melanjutkan pencarian dengan mengerahkan alat berat dan teknologi pemetaan udara, sembari berharap cuaca segera membaik. (*)




















