Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
GAYA HIDUP & KOMUNITAS

Hari Perempuan Sedunia 8 Maret: Sejarah, Makna, dan Tantangan Kesetaraan Gender di Dunia

102
×

Hari Perempuan Sedunia 8 Maret: Sejarah, Makna, dan Tantangan Kesetaraan Gender di Dunia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Peringatan International Women’s Day atau Hari Perempuan Sedunia yang jatuh setiap 8 Maret menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan panjang perempuan dalam memperjuangkan hak, kesetaraan, dan keadilan gender di berbagai negara.

Lebih dari sekadar perayaan tahunan, peringatan ini juga menjadi refleksi global untuk menilai capaian yang telah diraih sekaligus mendorong langkah nyata menuju kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Isu kesetaraan gender sendiri merupakan salah satu pilar utama dalam United Nations melalui agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, sebelumnya menegaskan pentingnya memperluas kesempatan bagi perempuan dan anak perempuan untuk mengurangi ketimpangan global.

“Dunia harus melawan ketimpangan dengan memperluas peluang bagi perempuan dan anak perempuan,” tegas António Guterres dalam pernyataannya terkait agenda kesetaraan gender global.


Sejarah Hari Perempuan Sedunia

Sejarah International Women’s Day berakar lebih dari satu abad lalu. Awalnya, peringatan ini muncul sebagai National Women’s Day di Amerika Serikat pada Februari 1909, yang kemudian menginspirasi gerakan perempuan di berbagai negara.

Setahun kemudian, dalam konferensi perempuan internasional di Kopenhagen, aktivis hak perempuan Clara Zetkin mengusulkan pembentukan hari internasional untuk memperjuangkan kesetaraan hak perempuan.

Usulan tersebut kemudian diwujudkan pada 1911, ketika peringatan International Women’s Day pertama kali digelar secara global.

Sejak 1913, tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai hari resmi peringatan perjuangan perempuan di seluruh dunia.

Pada 1914, pawai besar menuntut hak pilih perempuan digelar di London dan aktivis perempuan Sylvia Pankhurst bahkan sempat ditangkap dalam aksi tersebut.

PBB sendiri mulai merayakan peringatan ini secara resmi pada 1975, dan sejak 1996 menetapkan tema tahunan untuk memperkuat kampanye kesetaraan gender.


Kesetaraan Gender Masih Jadi Tantangan Global

Meski berbagai kemajuan telah dicapai, laporan terbaru menunjukkan bahwa kesetaraan gender secara penuh masih jauh dari tercapai.

Dalam laporan Gender Snapshot 2024 yang dirilis oleh UN Women, belum satu pun indikator SDGs terkait kesetaraan gender yang benar-benar terpenuhi secara global.

Memang terdapat beberapa kemajuan, misalnya jumlah perempuan dan anak perempuan yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah turun hingga di bawah 10 persen.

Namun, untuk benar-benar menghapus kemiskinan ekstrem bagi perempuan di seluruh dunia diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar 137 tahun.

Sementara itu, laporan World Economic Forum melalui Global Gender Gap Report 2024 menunjukkan kesenjangan gender masih terjadi di berbagai sektor.

Dari 146 negara yang dianalisis, belum ada satu pun negara yang mencapai kesetaraan gender secara penuh.

Kesenjangan terbesar bahkan masih terjadi di sektor politik, dengan tingkat penutupan kesenjangan baru mencapai 22,8 persen.

Para ahli memperkirakan dunia masih membutuhkan sekitar 169 tahun untuk benar-benar menutup kesenjangan tersebut.

Example 300250