SURABAYA | Sentrapos.co.id — Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti kawasan religi Kutisari Selatan, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, saat ratusan jamaah menghadiri Selamatan Desa “Kutisari Bersyukur” yang dirangkai dengan Haul XVII Mbah Karomah dan Mbah Yusuf, Sabtu Pon (31/1/2026) malam.
Meski hujan mengguyur, antusiasme warga tak surut. Jamaah datang dari seluruh wilayah Kelurahan Kutisari dan sekitarnya, berkumpul di depan Makam Keramat Kutisari Selatan VII Nomor 22, RT 09 RW 03, sebagai wujud takzim kepada para sesepuh desa serta ungkapan syukur atas limpahan rahmat Allah SWT.

Jejak Spiritual dan Sejarah Kutisari
Mbah Karomah dan Mbah Yusuf dikenal masyarakat setempat sebagai tokoh sesepuh atau punden yang berperan penting dalam babat alas (pembukaan wilayah) Kutisari pada masa awal pemukiman. Makam keduanya hingga kini menjadi destinasi wisata religi lokal yang dihormati dan dirawat secara turun-temurun.
Selain itu, Kutisari juga memiliki situs religi lain yang tak kalah dikenal, yakni makam Sri Wulan, yang kerap dikaitkan dengan legenda sejarah masa lampau. Keberadaan makam-makam tersebut memperlihatkan jejak panjang penyebaran Islam dan awal peradaban di Surabaya yang oleh sebagian sejarawan dikaitkan dengan era akhir Kerajaan Majapahit hingga masa awal dakwah Islam.
Ngaji Bareng, Menguatkan Iman dan Menjaga Hati
Haul ke-17 ini diisi mauidhoh hasanah dan ngaji bersama yang disampaikan oleh KH Moch Syahirin, Ketua Yayasan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren PP Baitul Mukhlashin. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak warga Kutisari untuk memperdalam keimanan dan membersihkan hati dari kecintaan berlebihan pada dunia.
“Kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan, transit sesaat. Kebahagiaan sejati bukan diukur dari harta, jabatan, atau kekuasaan, tetapi dari kedekatan kita kepada Allah SWT,” tutur KH Moch Syahirin di hadapan jamaah.
Ia menegaskan bahwa para shalihin seperti Mbah Karomah dan Mbah Yusuf telah melewati ujian dunia, mengenal hakikat kebahagiaan, dan kini berada di alam yang abadi. Karena itu, umat diajak meninggalkan sifat iri, dengki, kebencian antartetangga, serta menjaga kerukunan sebagai nilai yang sangat dicintai Allah SWT.
“Jangan biarkan selain Allah masuk ke dalam hati. Hapus nafsu duniawi, kuat menghadapi ujian Gusti Allah, dan perbanyak syukur. Kerukunan warga adalah jalan menuju ridha-Nya,” pesan beliau.
Sholawat, Doa, dan Kebersamaan Warga
Rangkaian acara semakin semarak dengan lantunan sholawat dari Grup Banjari Polda Jawa Timur, Majelis Aulian Mustafa, yang mengiringi doa-doa bersama penuh kekhusyukan. Acara ini terbuka untuk umum dan disiarkan langsung melalui platform YouTube DISTRICT_RW03.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut para ulama, tokoh masyarakat, unsur Muspika dan Muspida, serta mantan Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi.

Camat Tenggilis Mejoyo Wawan Windarto dalam sambutannya menyampaikan bahwa haul ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi sarana memperkuat spiritualitas, mendoakan para leluhur, serta menumbuhkan kerukunan dan kesejahteraan warga Kutisari.
Harapan Warga: Haul Lebih Besar dan Lebih Berkah
Ketua RT 09 RW 03, Ningrum, mengapresiasi kekompakan warga dan berharap pelaksanaan haul di tahun mendatang dapat digelar lebih besar dan semakin membawa manfaat.

“Alhamdulillah, acara ini setiap tahun selalu ramai. Harapan kami, haul tahun depan bisa lebih besar lagi dan menjadi wasilah kebaikan untuk seluruh warga Kutisari,” ujarnya.
Haul XVII Mbah Karomah dan Mbah Yusuf menjadi pengingat bahwa spiritualitas, rasa syukur, dan kerukunan sosial adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang damai, sejahtera, dan diridhai Allah SWT. (Har7)




















