JAKARTA | Sentrapos.co.id — Kementerian Pertahanan (Kemhan) Inggris menyatakan bahwa kapal induk Angkatan Laut Kerajaan (Royal Navy) saat ini sedang dipersiapkan untuk kemungkinan dikerahkan ke kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah tersebut.
Juru bicara Kemhan Inggris mengatakan bahwa personel Royal Navy tengah melakukan berbagai persiapan terhadap HMS Prince of Wales, salah satu kapal induk terbesar milik Inggris.
Namun hingga saat ini, pemerintah Inggris belum mengeluarkan perintah resmi untuk mengirim kapal perang tersebut ke kawasan konflik.
“Para prajurit Royal Navy saat ini sedang mempersiapkan HMS Prince of Wales, namun belum ada arahan resmi untuk memberangkatkannya,” demikian laporan media Inggris yang dikutip dari The Guardian.
Kapal Induk Siap Berangkat dalam Lima Hari
Menurut laporan Sky News, personel Royal Navy telah diberi pemberitahuan mengenai kemungkinan pengerahan kapal induk ke Timur Tengah.
Bahkan terdapat laporan bahwa kapal tersebut diminta berada dalam kondisi siap berangkat dalam waktu lima hari jika keputusan pengerahan diambil oleh pemerintah Inggris.
Informasi serupa juga dilaporkan BBC News yang mengutip sumber dari sektor pertahanan Inggris.
Jika benar diberangkatkan, HMS Prince of Wales diperkirakan akan bergabung dengan HMS Dragon, kapal perang Inggris yang sebelumnya telah lebih dulu dikirim ke kawasan tersebut.
Ketegangan Memanas di Timur Tengah
Wacana pengerahan kapal induk Inggris ini muncul di tengah meningkatnya konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer terkait lambatnya respons Inggris dalam mengirimkan kekuatan militer ke kawasan tersebut.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump bahkan menyindir keputusan Inggris yang dianggap terlambat.
“Inggris Raya, sekutu besar kita di masa lalu, akhirnya mempertimbangkan dengan serius untuk mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah,” tulis Trump.
Namun Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak lagi membutuhkan dukungan tersebut karena mengklaim situasi militer sudah terkendali.
“Tidak apa-apa, Perdana Menteri Starmer, kami tidak butuh kapal-kapal induk itu lagi. Kami tidak butuh orang-orang yang baru ikut dalam perang setelah kami menang,” lanjutnya.
Inggris Perkuat Pertahanan di Siprus
Pemerintah Inggris sendiri sebelumnya mendapat kritik dari Partai Konservatif karena dinilai lambat merespons ancaman keamanan di wilayah Siprus, tempat Inggris memiliki pangkalan militer strategis.
Pangkalan Inggris di pulau tersebut sempat diserang drone pada 1 Maret 2026, yang awalnya diduga berasal dari Iran, meski kemudian pemerintah Inggris menyatakan drone tersebut bukan berasal dari Teheran.
Sebagai langkah penguatan keamanan, Kemhan Inggris juga telah mengirimkan sekitar 400 personel militer tambahan ke Siprus.
Selain itu, Inggris turut mengaktifkan jet tempur F-35 serta sistem pertahanan udara untuk meningkatkan kesiapsiagaan militer.
Langkah ini sejalan dengan peningkatan aktivitas militer negara-negara Eropa lainnya seperti Prancis, Spanyol, dan Italia yang juga mengirim kapal perang ke kawasan Timur Tengah guna mendukung operasi keamanan regional bersama sekutu Barat. (*)




















