JAKARTA | Sentrapos.co.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengisyaratkan keinginan untuk mengakhiri konflik dengan Iran secepat mungkin, setelah laporan intelijen terbaru Amerika Serikat menyimpulkan bahwa rezim Teheran masih tetap kuat meskipun mendapat serangan bertubi-tubi selama dua pekan terakhir.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintahan Trump akibat konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Berdasarkan laporan Reuters, beberapa sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menyatakan bahwa hasil analisis intelijen menunjukkan pemerintahan Iran tidak berada di ambang keruntuhan.
“Sejumlah laporan intelijen menyimpulkan bahwa rezim Teheran masih tetap kuat dan tidak berada dalam risiko runtuh dalam waktu dekat,” ungkap sumber yang mengetahui laporan tersebut.
Tekanan Politik dan Lonjakan Harga Minyak
Keinginan Trump untuk mengakhiri perang juga dipicu oleh lonjakan harga minyak global yang terjadi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Selain tekanan ekonomi, sejumlah media Amerika Serikat juga melaporkan adanya kritik dari dalam negeri terhadap operasi militer Washington di Iran yang dianggap terlalu mahal dan berisiko tinggi.
Meski demikian, upaya menghentikan konflik diperkirakan tidak mudah dilakukan, terutama jika Iran tetap mempertahankan sikap konfrontatif.
Pemerintah Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka yang akan menentukan kapan perang akan berakhir.
Kepemimpinan Iran Tetap Solid
Menurut laporan intelijen AS, para pemimpin Iran tetap menunjukkan solidaritas politik meskipun negara tersebut kehilangan sejumlah tokoh penting dalam konflik terbaru.
Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu, serta puluhan pejabat tinggi dan komandan di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Namun, hanya dalam waktu satu minggu setelah kematian Khamenei, Majelis Ahli Iran langsung menunjuk Mojtaba Khamenei (56) sebagai pemimpin tertinggi baru.
Majelis Ahli merupakan lembaga ulama Syiah senior yang memiliki kewenangan untuk memilih pemimpin tertinggi Iran.
Israel Pertimbangkan Operasi Darat
Sumber lain menyebutkan bahwa Israel masih berambisi melemahkan pemerintahan Iran, bahkan tidak menutup kemungkinan melakukan operasi darat jika dianggap diperlukan.
Namun, operasi tersebut dinilai harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan dampak besar terhadap masyarakat sipil Iran.
Sementara itu, Gedung Putih juga belum menutup kemungkinan opsi serupa.
“Semua opsi masih terbuka bagi Presiden,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam pernyataan sebelumnya.
Trump Kritik Serangan Kapal Iran
Di sisi lain, Trump juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap operasi militer Amerika Serikat yang menenggelamkan kapal perang Iran di dekat Sri Lanka pada 4 Maret lalu.
Serangan torpedo dari kapal selam Amerika Serikat tersebut menewaskan 87 awak kapal Iran.
Trump menilai kapal tersebut seharusnya bisa ditangkap, bukan dihancurkan.
“Mengapa kita membunuh mereka? Mengapa kita tidak menangkap mereka saja dan memanfaatkan mereka?” ujar Trump dalam rapat umum di Kentucky.
Serangan Laut Pertama Sejak Perang Dunia II
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa penenggelaman kapal perang Iran tersebut menjadi serangan pertama terhadap kapal musuh oleh kapal selam AS sejak Perang Dunia II.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” kata Hegseth.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran kini menjadi salah satu krisis geopolitik paling serius di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional karena berpotensi memicu ketegangan global yang lebih luas, terutama terkait stabilitas energi dan keamanan kawasan. (*)




















