JAKARTA | Sentrapos.co.id — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran ke Israel, termasuk ke kota Tel Aviv, menggunakan rudal balistik kelas berat dengan daya ledak tinggi.
Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Hossein Majid, menegaskan bahwa Teheran akan meningkatkan intensitas serangan dengan menggunakan rudal yang memiliki hulu ledak minimal satu ton.
Ancaman tersebut disampaikan Majid kepada media Iran Mousavi, menandai eskalasi baru dalam konflik yang terus memanas antara Iran dan Israel.
“Iran tidak akan lagi menggunakan rudal dengan hulu ledak kurang dari satu ton,” tegas Hossein Majid.
IRGC Siapkan Rudal Hipersonik untuk Serangan Masif
Menurut pernyataan IRGC, Iran akan mengerahkan seluruh stok rudal kelas berat yang dimilikinya untuk menggempur target-target strategis Israel.
Beberapa rudal yang disebut telah digunakan dalam serangan sebelumnya antara lain Ghadr, Emad, Fattah, hingga rudal Kheibar yang termasuk dalam kategori rudal balistik hipersonik dengan daya ledak tinggi.
Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer yang disebut “Operation True Promise 4”, yang menurut laporan Irib News telah memasuki fase ke-34.
IRGC mengklaim sejumlah rudal balistik tersebut berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel, termasuk Iron Dome, serta sistem pertahanan THAAD milik Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan tersebut.
Target Serangan: Kota Israel dan Basis Militer AS
Dalam pernyataannya, Hossein Majid juga menyebut bahwa rudal-rudal tersebut tidak hanya diarahkan ke kota-kota di Israel, tetapi juga ke fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Langkah ini menandakan potensi konflik yang lebih luas di kawasan, terutama jika fasilitas militer AS turut menjadi sasaran serangan.
Iran menegaskan bahwa serangan terhadap Israel akan terus berlanjut sebagai bagian dari strategi militernya.
IRGC Tegaskan Iran yang Menentukan Akhir Perang
Pernyataan keras Iran juga merupakan respons terhadap klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyebut konflik di kawasan tersebut mendekati akhir.
Trump bahkan mengatakan bahwa berakhirnya perang akan bergantung pada keputusan dirinya bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Namun, IRGC dengan tegas menolak klaim tersebut dan menyatakan bahwa Iran-lah yang akan menentukan kapan perang akan berakhir.
“Kamilah yang akan menentukan akhir perang,” tegas IRGC dalam pernyataan resmi yang dikutip AFP, Selasa (10/3).
“Situasi dan status masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami. Pasukan Amerika tidak akan mengakhiri perang,” lanjut pernyataan tersebut.
Ancaman serangan rudal besar-besaran ini semakin memperkeruh situasi geopolitik di Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran dunia akan potensi konflik militer yang lebih luas di kawasan tersebut. (*)




















