JAKARTA | Sentrapos.co.id — Ketegangan geopolitik memuncak setelah Iran merespons ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Peringatan keras dilontarkan Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, yang menegaskan bahwa eskalasi konflik akan membawa konsekuensi besar bagi Amerika Serikat.
“Jika terus menyerang Iran, pintu neraka akan terbuka untukmu,” tegas Aliabadi, seperti dikutip dari CNN.
Pernyataan serupa juga disampaikan Juru Bicara Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, yang memperingatkan bahwa konflik yang meluas akan menyeret seluruh kawasan ke dalam krisis besar.
“Jika permusuhan meluas, seluruh wilayah akan menjadi neraka bagi kalian. Ilusi mengalahkan Iran hanya akan menjadi jebakan yang menelan sendiri,” ujarnya.
Ultimatum dari Trump muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia. Penutupan tersebut berdampak langsung pada lonjakan harga energi global dan memicu kekhawatiran pasar internasional.
Trump bahkan mengancam akan menghancurkan infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik, jika tuntutannya tidak dipenuhi dalam tenggat waktu yang ditentukan.
“Waktu hampir habis — 48 jam sebelum konsekuensi besar terjadi,” kata Trump dalam pernyataannya.
Ketegangan ini dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menjadi titik balik konflik besar di kawasan Timur Tengah.
Dalam serangan itu, dilaporkan sekitar 1.340 orang tewas, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.
Situasi yang terus memanas ini meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas, sekaligus mengancam stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi dan perdagangan internasional. (*)
Poin Utama Berita
- Iran mengancam AS dengan pernyataan “pintu neraka” jika serangan berlanjut
- Donald Trump memberi ultimatum 48 jam agar Selat Hormuz dibuka
- Iran menutup jalur strategis perdagangan minyak dunia
- Ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran dari AS
- Konflik dipicu serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026
- Lebih dari 1.300 korban tewas, termasuk pemimpin Iran
- Harga minyak dunia melonjak akibat krisis

















