Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
INTERNASIONALPERISTIWA

Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Negara Sahabat, Kapal ‘Musuh’ Ditolak: Dampak Global Kian Meluas

38
×

Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Negara Sahabat, Kapal ‘Musuh’ Ditolak: Dampak Global Kian Meluas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TEHERAN | Sentrapos.co.id — Pemerintah Iran resmi mengizinkan kapal-kapal dari sejumlah negara sahabat untuk melintasi Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kapal dari negara seperti Rusia, China, India, Pakistan, dan Irak tetap diperbolehkan melintas.

“Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan media televisi satelit Lebanon.

Namun, Iran menegaskan tidak akan memberikan akses kepada kapal-kapal yang dianggap berasal dari negara “musuh”.

“Tidak ada alasan bagi kami untuk mengizinkan kapal-kapal musuh melewati Selat Hormuz,” tegasnya.

Ketegangan di kawasan memuncak setelah serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, yang menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran dan menyebabkan kerusakan serta korban sipil.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah. Eskalasi ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait keamanan jalur distribusi energi dunia.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menghubungkan negara-negara Teluk Persia dengan pasar internasional, khususnya dalam pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG). Situasi saat ini memicu blokade de facto yang berdampak langsung pada rantai pasok energi global.

Dampaknya, sejumlah negara mulai merasakan lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya ekspor dan produksi minyak dari kawasan tersebut. Para analis memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memperparah inflasi global jika ketegangan tidak segera mereda. (*)