ROMA | Sentrapos.co.id – Timnas Italia kembali menelan pil pahit setelah dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2026 usai kalah dramatis dari Bosnia-Herzegovina lewat adu penalti. Kekalahan dari tim peringkat 66 dunia itu menjadi pukulan telak bagi reputasi sepak bola Italia.
Kegagalan ini langsung memicu reaksi keras dari pemerintah. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, secara terbuka mendesak Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, untuk mundur dari jabatannya.
“Sudah jelas bagi semua orang bahwa sepak bola Italia perlu dirombak total. Dan proses itu harus dimulai dengan kepemimpinan baru di FIGC,” tegas Abodi.
Tekanan Besar untuk FIGC
Desakan mundur terhadap Gravina bukan tanpa alasan. Ia sebelumnya juga mendapat sorotan setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2022. Kini, kegagalan kembali terjadi dan membuat posisinya semakin terancam.
Gravina sendiri belum memberikan keputusan tegas. Ia menyatakan akan melakukan evaluasi mendalam dalam waktu dekat, termasuk membuka kemungkinan adanya pemilihan ulang di tubuh federasi.
“Minggu depan kami akan membuat refleksi lebih dalam. Ada banyak hal yang perlu dievaluasi,” ujar Gravina.
Sikap Gennaro Gattuso di Tengah Kekecewaan
Di tengah situasi penuh tekanan, pelatih Italia, Gennaro Gattuso, memilih menahan diri untuk tidak membahas masa depannya. Ia menegaskan bahwa fokusnya saat ini adalah pada tim yang telah berjuang maksimal.
“Saya tidak tertarik membicarakan masa depan saya hari ini. Ini menyakitkan, sangat menyakitkan,” kata Gattuso.
“Lebih menyakitkan melihat para pemain yang sudah memberikan segalanya,” lanjutnya.
Meski demikian, FIGC memberi sinyal kuat untuk tetap mempertahankan Gattuso sebagai pelatih. Bahkan, Gravina secara terbuka memberikan pujian atas kinerjanya.
“Gattuso adalah pelatih hebat. Saya memintanya tetap menangani tim ini,” ujar Gravina.
Krisis Sepak Bola Italia Kian Nyata
Kegagalan Italia tak hanya terjadi di level tim nasional. Performa klub-klub Serie A di kompetisi Eropa juga menunjukkan penurunan tajam.
Tak satu pun klub Italia mampu menembus perempat final Liga Champions musim ini. Bahkan, sejak Inter Milan meraih gelar pada 2010, belum ada klub Italia yang kembali menjadi juara Eropa.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran mendalam soal krisis identitas sepak bola Italia.
Mantan Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi, bahkan menyebut kegagalan ini sebagai tanda kegagalan sistemik.
“Ini bukan lelucon April Mop. Ini adalah tanda bahwa sepak bola Italia telah gagal,” tegas Renzi.
Kegagalan beruntun ini menjadi alarm serius bahwa Italia membutuhkan reformasi menyeluruh, mulai dari pembinaan pemain hingga tata kelola federasi. (*)
Poin Utama Berita
- Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Bosnia lewat adu penalti
- Menteri Olahraga Italia desak Presiden FIGC mundur
- Tekanan terhadap Gabriele Gravina semakin kuat
- Gennaro Gattuso belum bicara masa depan, fokus pada tim
- FIGC masih ingin mempertahankan Gattuso sebagai pelatih
- Sepak bola Italia mengalami krisis dari timnas hingga klub
- Matteo Renzi sebut kegagalan ini sebagai bukti sistem yang gagal

















