Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISPERISTIWASOSIAL POLITIK

Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Syafruddin Desak Pemerintah Lindungi Aset & Diversifikasi Energi

31
×

Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Syafruddin Desak Pemerintah Lindungi Aset & Diversifikasi Energi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA, SENTRAPOS.CO.ID – Anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, mengingatkan pentingnya pendekatan multilateral dalam menghadapi eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya dampaknya terhadap sektor energi nasional.

Pernyataan ini disampaikan menyusul tertahannya kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

“Ini bukan hanya soal kapal, tetapi soal bagaimana negara hadir melindungi aset strategis sekaligus warganya di tengah konflik global.”

Syafruddin menegaskan, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kepentingan nasional, termasuk keselamatan awak kapal dan keberlangsungan distribusi energi.

Desak Peran Langsung Presiden

Ia juga menilai, keterlibatan langsung Prabowo Subianto sangat diperlukan untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di tengah konflik global.

Menurutnya, kepemimpinan aktif Presiden dapat menegaskan posisi Indonesia sebagai negara non-blok yang mengedepankan diplomasi damai.

“Perlu kepemimpinan langsung Presiden untuk memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi situasi global yang kompleks.”

Selat Hormuz Jalur Vital Dunia

Syafruddin mengingatkan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur distribusi energi paling krusial di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas setiap harinya.

“Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga stabilitas energi global.”

Ketegangan kawasan bahkan memicu kebijakan penutupan jalur tersebut oleh Iran, yang berdampak langsung pada aktivitas pelayaran internasional, termasuk kapal Indonesia.

Diplomasi Intensif & Nasib ABK WNI

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan KBRI di kawasan Timur Tengah terus melakukan upaya diplomasi intensif guna memastikan keselamatan kapal serta awaknya.

Di sisi lain, pencarian tiga Anak Buah Kapal (ABK) WNI yang hilang dalam insiden kapal tunda Musaffah 2 masih terus dilakukan oleh otoritas Oman dan Uni Emirat Arab.

Duta Besar RI untuk UEA, Judha Nugraha, menyatakan hingga kini belum ada perkembangan signifikan terkait keberadaan ketiga korban.

“Tiga awak WNI yang hilang masih belum ditemukan. Otoritas setempat belum memberikan pernyataan resmi terkait hasil pencarian.”

Sementara itu, satu WNI yang selamat, kapten kapal Rano Djama, telah menjalani operasi luka bakar dan kini dalam tahap pemulihan. Pihak KBRI juga telah membantu penerbitan dokumen perjalanan baru serta memfasilitasi hak kompensasi dari perusahaan.

Diversifikasi Energi Jadi Kunci

Syafruddin menekankan bahwa krisis ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat diversifikasi sumber energi dan jalur distribusi, guna mengurangi ketergantungan pada kawasan rawan konflik.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu. (*)


Poin Utama Berita

  • Syafruddin soroti kapal PT Pertamina (Persero) tertahan di Selat Hormuz
  • DPR desak pemerintah lindungi aset strategis dan WNI
  • Prabowo Subianto diminta turun tangan langsung
  • Selat Hormuz jalur vital 20% distribusi minyak dunia
  • Diplomasi intensif dilakukan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
  • Tiga ABK WNI masih hilang, satu korban selamat dalam pemulihan
  • Diversifikasi energi dinilai solusi jangka panjang