Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAH

Kasus Dugaan Keracunan MBG di SMK Sore Tulungagung Bertambah Jadi 15 Pelajar

43
×

Kasus Dugaan Keracunan MBG di SMK Sore Tulungagung Bertambah Jadi 15 Pelajar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
TULUNGAGUNG | Sentrapos.co.id – Jumlah pelajar SMK Sore Tulungagung yang mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) bertambah menjadi 15 orang. Data tersebut diperoleh berdasarkan survei epidemiologi yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (22/1/2026).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung Aris Setiawan menjelaskan, survei epidemiologi dilakukan terhadap seluruh pelajar SMK Sore Tulungagung yang berjumlah sekitar 2.900 siswa, guna mendeteksi kemungkinan adanya tambahan kasus.

“Dalam proses survei epidemiologi, kami menemukan empat pelajar yang sempat dirawat di UKS dengan gejala yang sama. Kondisinya sudah membaik setelah mendapatkan obat dan diperbolehkan pulang,” ujar dr Aris.

Tambahan Kasus dari Puskesmas

Selain itu, Dinas Kesehatan juga menerima laporan dua pelajar yang mendatangi fasilitas layanan kesehatan dengan keluhan gangguan pencernaan, masing-masing satu orang di Puskesmas Beji dan satu orang di Puskesmas Simo.

Dengan penambahan tersebut, total pelajar yang mengalami gejala dugaan keracunan makanan kini mencapai 15 orang, meningkat dari laporan awal yang mencatat sembilan pelajar.

“Total saat ini ada 15 pelajar yang mengalami gejala gangguan pencernaan dan diduga terkait konsumsi MBG dari SPPG Moyoketen I,” jelasnya.

Pemantauan dan Uji Laboratorium

Dinas Kesehatan Tulungagung akan terus melakukan pemantauan kesehatan terhadap pelajar dan guru SMK Sore Tulungagung selama dua hari ke depan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus baru.

Selain itu, pihaknya telah mengambil sampel menu MBG yang dikonsumsi pelajar untuk dilakukan uji laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya.

“Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar rekomendasi terkait operasional SPPG, termasuk evaluasi penerapan SOP mulai dari penerimaan bahan, pengolahan, hingga penyajian makanan,” terang dr Aris.

Ia menambahkan, pengambilan sampel dilakukan bersamaan dengan investigasi awal di SPPG Moyoketen I. Namun, hingga kini hasil uji laboratorium masih dalam proses.

“Untuk kesimpulan penyebabnya, kami masih menunggu hasil uji laboratorium,” pungkasnya. *

Example 300250