Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
BIROKRASI & PEMERINTAHANPENDIDIKAN & KESEHATAN

Kemenkes Temukan 1,8% Peserta CKG Alami Gangguan Telinga, Mayoritas karena Kotoran Telinga

52
×

Kemenkes Temukan 1,8% Peserta CKG Alami Gangguan Telinga, Mayoritas karena Kotoran Telinga

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.idKementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menemukan masih banyak masyarakat mengalami gangguan telinga melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Temuan tersebut berdasarkan hasil skrining sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan bahwa pada 2025 sebanyak 18,6 juta orang usia di atas tujuh tahun telah diskrining. Dari jumlah itu, 1,8 persen teridentifikasi mengalami gangguan telinga.

“Hingga Maret 2026, sekitar 4,1 juta orang telah mengikuti pemeriksaan dan 1,24 persen di antaranya mengalami masalah telinga,” ujarnya dalam konferensi pers Hari Pendengaran Sedunia di Jakarta, Senin (2/3/2026).


Mayoritas karena Kotoran Telinga

Menurut Nadia, gangguan yang paling banyak ditemukan adalah penumpukan kotoran telinga. Meski terkesan ringan, kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi pendengaran jika tidak ditangani dengan benar.

Program CKG sendiri merupakan bagian dari kebijakan deteksi dini untuk mengidentifikasi berbagai masalah kesehatan sejak awal.


Dampak pada Anak dan Pendidikan

Kemenkes menegaskan gangguan pendengaran yang tidak ditangani dapat memengaruhi kualitas hidup, terutama pada anak-anak.

“Permasalahan pendengaran berdampak besar pada pendidikan, interaksi sosial, hingga produktivitas anak di masa depan,” jelas Nadia.

Momentum peringatan Hari Pendengaran Sedunia setiap 3 Maret tahun ini difokuskan pada kelompok usia anak sebagai langkah meningkatkan kesadaran masyarakat.


Stigma Hambat Deteksi Dini

Dokter THT-KL Konsulen, Fikri Mirza Putranto, menyoroti masih kuatnya stigma terhadap gangguan pendengaran.

“Masih ada anggapan negatif terkait gangguan pendengaran dan kecacatan. Banyak orang menunda bahkan menghindari pemeriksaan,” ujarnya.

Padahal, peluang pemulihan lebih besar jika gangguan terdeteksi sejak dini. Fikri mendorong kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat untuk meningkatkan edukasi serta kesadaran kesehatan pendengaran.


Pentingnya Deteksi Dini

Berbeda dengan beberapa gangguan kesehatan lain, fungsi pendengaran masih memiliki peluang pemulihan optimal jika ditangani lebih awal.

Kemenkes mengimbau masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis sebagai langkah preventif untuk menjaga kualitas hidup dan produktivitas. (*)

Example 300250