JAKARTA | Sentrapos.co.id – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengungkap adanya peningkatan jumlah pasien di rumah sakit jiwa (RSJ) akibat kecanduan game dan judi online (judol).
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyebut saat ini terdapat 54 RSJ di seluruh Indonesia yang turut menangani kasus adiksi, baik yang berkaitan dengan internet, game, maupun judi online.
“Di Indonesia ada sekitar 54 rumah sakit jiwa. Dan kebanyakan memang menangani juga masalah kecanduan. Akhir-akhir ini dilaporkan mengalami peningkatan,” kata Imran di Sarinah, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Tren Meningkat di Sejumlah Daerah
Imran menjelaskan lonjakan pasien tidak hanya terjadi di satu wilayah, melainkan di berbagai daerah. Ia mencontohkan kondisi di Rumah Sakit Jiwa Menur yang mengalami overload pasien rawat inap akibat kasus kecanduan.
“Rawat inap untuk kecanduan sampai overload. Jadi harus inden untuk bisa dirawat,” ujarnya.
Selain di Surabaya, peningkatan serupa juga dilaporkan terjadi di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi dan Rumah Sakit Jiwa Grogol.
Menurut Imran, lonjakan paling terasa di kota-kota besar, khususnya di wilayah Pulau Jawa.
Data Nasional Masih Diverifikasi
Meski tren peningkatan terlihat signifikan, Kemenkes mengakui pencatatan data nasional terkait adiksi game dan judi online belum sepenuhnya merata.
“Pencatatan pelaporan untuk adiksi, terutama game maupun judol online, masih belum bagus. Tapi trennya memang terlihat meningkat,” jelasnya.
Kemenkes menilai fenomena ini menjadi alarm penting bagi penguatan edukasi kesehatan mental dan pengawasan aktivitas digital, terutama pada kelompok usia rentan.
Pemerintah mengimbau keluarga untuk lebih aktif memantau penggunaan gadget serta mengenali tanda-tanda kecanduan, seperti rasa cemas berlebihan saat tidak bermain, gangguan tidur, hingga penurunan fungsi sosial.
Langkah preventif dan edukatif dinilai menjadi kunci untuk menekan angka adiksi digital yang kian meningkat di Indonesia. (*)




















