JAKARTA | Sentrapos.co.id — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tengah membahas rencana pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Agenda utama pertemuan tersebut adalah pembahasan kebijakan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pembahasan teknis masih dilakukan oleh Kemlu dan akan diumumkan secara resmi oleh Menteri Luar Negeri.
“Sedang dibahas oleh Kementerian Luar Negeri, nanti Pak Menlu yang akan menyampaikan. Tentunya sudah ada perbincangan dan beberapa kali pertemuan, itu nanti akan diputuskan,” ujar Teddy di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Negosiasi Tarif Dagang Berjalan Panjang
Perundingan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat disebut telah berlangsung cukup panjang. Presiden Prabowo dikabarkan akan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada akhir Januari 2026 untuk bertemu langsung dengan Presiden Donald Trump.
Pertemuan tingkat kepala negara tersebut direncanakan menjadi momentum penandatanganan kesepakatan tarif dagang kedua negara, sebagai hasil akhir dari rangkaian negosiasi teknis yang telah dilakukan sebelumnya oleh tim ekonomi masing-masing pihak.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tetap dikenakan tarif sebesar 19 persen, sesuai kebijakan yang diumumkan pada Juli 2025.
Kebijakan tersebut merupakan hasil diskon tarif yang diberikan oleh Presiden Donald Trump, dari sebelumnya sebesar 32 persen, sebagai bagian dari kesepakatan awal perundingan dagang Indonesia–AS.
“Setelah seluruh proses teknis diselesaikan, diharapkan sebelum akhir Januari 2026 akan disiapkan dokumen yang dapat ditandatangani secara resmi oleh Presiden Prabowo dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump,” kata Airlangga dalam konferensi pers daring, Selasa (23/12/2025).
Pemerintah Optimistis Substansi Kesepakatan
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan tidak ada kendala substansial dalam proses negosiasi tarif dagang tersebut. Pemerintah menargetkan perundingan dapat dirampungkan sepenuhnya pada pertengahan Februari 2026.
“Insya Allah secara substansi tidak ada masalah. Mohon doanya agar kesepakatan ini benar-benar membawa kepentingan besar bagi bangsa dan negara,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Prasetyo menambahkan bahwa proses perundingan masih berjalan karena kedua negara terus mencari titik temu terbaik. Pemerintah Indonesia memastikan upaya diplomasi ekonomi akan terus dilakukan demi menjaga kepentingan nasional dan daya saing ekspor Indonesia di pasar Amerika Serikat. *




















