BOGOR | Sentrapos.co.id — Kasus dugaan keracunan massal mencuat di Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Sebanyak 107 warga dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, hingga diare usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan melalui posyandu.
Gejala muncul hampir bersamaan dalam hitungan jam sejak Selasa (6/4/2026) sore hingga Rabu (7/4/2026) siang. Korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga lansia.
Kepala Puskesmas Tanjungsari, Latifah Hani, mengungkapkan bahwa laporan pertama diterima pada Selasa malam. Pasien datang dengan keluhan serupa setelah mengonsumsi makanan dari distribusi MBG.
“Pada saat anamnesa, didapatkan bahwa pasien tersebut setelah mengkonsumsi makanan dari MBG,” ujar Latifah, Rabu (8/4/2026).
Jumlah korban terus bertambah. Hingga Rabu siang, hampir 20 orang sempat menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan, dengan beberapa di antaranya harus dirawat inap.
“Yang dirawat inap sampai sekarang ada dua atau tiga,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pasir Tanjung, Rizal Baharudin Zen, menyebut total warga terdampak mencapai 107 orang dari 315 penerima manfaat di enam posyandu.
“Jumlah warga yang terdampak itu 107,” tegas Rizal.
Dugaan Mengarah ke Menu Mie Ayam
Penelusuran awal mengarah pada menu makanan yang sama, yakni mie ayam lengkap dengan tahu atau pangsit serta sayuran. Gejala umumnya muncul beberapa jam setelah konsumsi.
“Setelah mengkonsumsi mie ayam tersebut, beberapa jam kemudian mengeluh pusing, mual, muntah, dan diare,” jelas Latifah.
Namun demikian, pihak puskesmas belum dapat memastikan penyebab pasti karena belum adanya hasil uji laboratorium.
“Kita masih belum bisa memastikan,” katanya.
Distribusi MBG Dihentikan Sementara
Sebagai langkah antisipasi, distribusi makanan MBG di wilayah tersebut langsung dihentikan. Warga pun memilih tidak mengambil makanan yang sempat kembali disalurkan.
“Untuk sementara sekarang dihentikan dulu,” kata Rizal.
Kekhawatiran warga terhadap keamanan pangan menjadi alasan utama penolakan tersebut.
Evaluasi Rantai Distribusi dan Keamanan Pangan
Pihak puskesmas menekankan bahwa dugaan keracunan tidak hanya bergantung pada jenis makanan, tetapi juga seluruh rantai distribusi, mulai dari bahan baku hingga penyajian.
“Mulai dari pembelian bahan makanan, penyimpanan, pengolahan, dan pendistribusian harus diawasi,” tegas Latifah.
Diketahui, dapur penyedia MBG sebelumnya telah melalui proses verifikasi. Namun, hasil peninjauan ulang menemukan adanya sejumlah aspek yang terlewat dari standar awal.
“Ada beberapa yang memang terlewati dari checklist tersebut,” ungkapnya.
Kelompok Rentan Jadi Sorotan
Program MBG di wilayah ini menyasar kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Kondisi tersebut membuat aspek keamanan pangan menjadi sangat krusial.
Sebagian makanan dikonsumsi langsung di lokasi, sementara sebagian lainnya dibawa pulang, sehingga pengawasan konsumsi menjadi tidak seragam.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Saat ini, penanganan difokuskan pada pemulihan kondisi warga terdampak. Pemerintah desa juga membuka kemungkinan evaluasi terhadap pihak penyedia makanan.
“Kalau memang ada unsur kelalaian, kita akan tindak tegas,” tegas Rizal.
Puskesmas Tanjungsari masih melakukan pendataan dan penelusuran lanjutan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. (*)
Poin Utama Berita
- 107 warga Bogor diduga mengalami keracunan makanan program MBG
- Gejala muncul serentak: mual, muntah, diare, pusing
- Menu diduga pemicu: mie ayam dari distribusi posyandu
- Distribusi MBG dihentikan sementara
- Belum ada hasil laboratorium, penyebab masih diselidiki
- Kelompok rentan (balita, ibu hamil/menyusui) ikut terdampak
- Dugaan kelalaian dalam rantai distribusi makanan sedang dievaluasi

















