Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
DAERAHPERISTIWA

Kisah Mbah Yatemi, Nenek Penjual Pisang di Nganjuk yang Berkali-Kali Tertipu Pembeli Nakal

238
×

Kisah Mbah Yatemi, Nenek Penjual Pisang di Nganjuk yang Berkali-Kali Tertipu Pembeli Nakal

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

NGANJUK | Sentrapos.co.id — Kisah Yatemi (80), nenek penjual pisang di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik setelah dirinya viral karena menjadi korban penipuan menggunakan uang mainan pecahan Rp100 ribu.

Di balik peristiwa tersebut, ternyata Mbah Yatemi telah beberapa kali mengalami kejadian serupa. Kondisi penglihatannya yang terbatas sering dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab saat ia berjualan.

Nenek yang sehari-hari berdagang di trotoar Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk itu mengaku pernah ditipu oleh seorang pembeli yang membayar dagangan pisangnya menggunakan uang asing pecahan 1 ringgit Malaysia.

“Katanya itu uang Rp50 ribu,” ujar Mbah Yatemi saat ditemui di rumahnya di Lingkungan Bleton, Kelurahan Warujayeng, Sabtu (7/3/2026).

Uang pecahan 1 ringgit Malaysia tersebut masih disimpan oleh Mbah Yatemi hingga sekarang. Sekilas, warna uang tersebut memang menyerupai uang rupiah pecahan Rp50 ribu, sehingga membuatnya percaya saat menerima pembayaran tersebut.

Karena keterbatasan penglihatan, Mbah Yatemi tidak menyadari perbedaan mata uang tersebut dan langsung menyerahkan dagangan pisangnya kepada pembeli.

Pernah Dirampas Saat Berjualan

Selain ditipu menggunakan uang asing, Mbah Yatemi juga pernah mengalami kejadian yang lebih memprihatinkan saat berjualan.

Ia mengaku pernah menjadi korban perampasan uang oleh orang tak dikenal. Saat itu, ia sedang menggenggam beberapa lembar uang hasil penjualan yang belum sempat dimasukkan ke dompet.

Tiba-tiba seseorang mencengkeram pergelangan tangannya dan mengambil paksa uang tersebut sebelum melarikan diri.

“Saya sempat teriak-teriak tapi orangnya sudah pergi,” ungkapnya.

Berjualan Seorang Diri Sejak Puluhan Tahun

Meski sudah berusia lanjut, Mbah Yatemi tetap berjualan seorang diri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ia biasanya mulai membuka lapak pisangnya sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 12.00 WIB.

Untuk pergi dan pulang dari lokasi berjualan, Mbah Yatemi biasanya diantar jemput oleh keponakannya.

Sehari-hari, ia tinggal di sebuah rumah sederhana di gang sempit Jalan Sumur Bur, Lingkungan Bleton, Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom.

Di rumah tersebut, ia tinggal bersama dua saudaranya yang juga telah lanjut usia. Mbah Yatemi diketahui pernah menikah, namun tidak memiliki anak.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia banyak dibantu oleh kerabat serta tetangga sekitar.

Sudah Berjualan Lebih dari 20 Tahun

Sebelum berjualan di trotoar seperti sekarang, Mbah Yatemi dulunya berjualan pisang dan sayuran dengan berkeliling menggunakan sepeda.

Aktivitas tersebut telah ia jalani selama puluhan tahun demi menyambung hidup.

“Seingat saya sudah 20 tahun lebih saya berjualan seperti ini,” tutur Mbah Yatemi.

Kisah perjuangan Mbah Yatemi menjadi pengingat akan pentingnya kepedulian masyarakat terhadap para pedagang kecil, khususnya lansia yang tetap bekerja keras untuk bertahan hidup di tengah berbagai keterbatasan. (*)

Example 300250