Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISINTERNASIONAL

Konflik Iran–AS-Israel Picu Lonjakan Harga Gas Dunia, Pasokan LNG dari Selat Hormuz Terancam

56
×

Konflik Iran–AS-Israel Picu Lonjakan Harga Gas Dunia, Pasokan LNG dari Selat Hormuz Terancam

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mulai berdampak serius terhadap pasar energi global. Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga gas dunia setelah Iran mengancam menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi internasional.

Dilansir dari laporan CNBC International, Selat Hormuz yang menghubungkan Oman dan Iran merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima perdagangan Liquefied Natural Gas (LNG) global. Gangguan di jalur tersebut dinilai berpotensi melumpuhkan pasokan energi dunia.

Para analis memperingatkan situasi ini dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi Eropa serta memicu tekanan energi di sejumlah negara Asia yang sangat bergantung pada impor LNG.

Harga Gas Dunia Melonjak Tajam

Lonjakan harga gas global mulai terlihat di pasar energi Eropa. Kontrak berjangka Dutch Title Transfer Facility (TTF), yang menjadi patokan harga gas di Eropa, melonjak 35 persen pada Selasa (3/3/2026) hingga menembus 60 euro atau sekitar US$69,64 per megawatt-jam.

Secara mingguan, harga gas tersebut bahkan telah meningkat sekitar 76 persen, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis pasokan energi.

Kenaikan serupa juga terjadi di kawasan Asia. Indikator harga LNG Asia Timur Laut, Japan-Korea Marker (JKM)—yang mencakup pengiriman ke Jepang, Korea Selatan, China, dan Taiwan—naik hingga 43 euro atau sekitar US$49,83 per MWh, tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Harga gas alam di Inggris juga dilaporkan mengalami lonjakan signifikan seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Produksi LNG Qatar Terhenti

Salah satu pemicu lonjakan harga tersebut adalah terganggunya produksi LNG dari Qatar, salah satu produsen LNG terbesar di dunia.

Produksi dihentikan sementara pada Senin setelah serangan drone Iran menghantam kawasan industri energi di Ras Laffan dan Mesaieed.

Bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan gangguan produksi tersebut berpotensi memangkas sekitar 19 persen pasokan LNG global dalam jangka pendek.

Situasi semakin memanas setelah seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz dan siap menyerang kapal yang mencoba melintas.

Namun laporan Fox News menyebutkan pihak Amerika Serikat menyatakan jalur pelayaran tersebut masih tetap terbuka.

Risiko Krisis Energi Global

Analis minyak dan gas dari Stifel, Chris Wheaton, mengatakan Eropa sangat rentan terhadap guncangan harga gas karena ketergantungan besar terhadap impor LNG.

Sekitar 25 persen pasokan gas Eropa berasal dari LNG, sementara 20 persen produksi LNG global harus melewati Selat Hormuz.

“Kami jauh lebih khawatir terhadap harga gas Eropa dibandingkan harga minyak,” ujar Wheaton.

Jika gangguan berlangsung lama, krisis energi global yang terjadi dikhawatirkan bisa menyerupai krisis energi Eropa pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Dampak pada Pasar Energi

Di tengah kekhawatiran krisis pasokan, sejumlah produsen energi alternatif justru diuntungkan. Saham perusahaan energi Norwegia Equinor tercatat naik lebih dari 2 persen dan mencapai level tertinggi dalam 52 minggu terakhir.

Sebelumnya, saham perusahaan tersebut juga telah melonjak lebih dari 8 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Prediksi Harga Gas Melonjak Lebih Tinggi

Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika aliran gas melalui Selat Hormuz terhenti selama satu bulan, harga gas Eropa dan Asia berpotensi melonjak hingga 74 euro atau sekitar US$85,80 per MWh.

Lonjakan tersebut bahkan dapat memicu penurunan permintaan energi ekstrem seperti yang terjadi saat krisis energi Eropa pada 2022.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Goldman Sachs telah merevisi proyeksi harga gas untuk April 2026 dari 36 euro menjadi 55 euro per MWh.

Asia Paling Rentan

Sejumlah negara Asia dinilai sangat rentan terhadap gangguan pasokan LNG dari Timur Tengah karena tingginya ketergantungan impor energi.

Beberapa negara dengan ketergantungan tinggi terhadap LNG Timur Tengah antara lain:

  • India: sekitar 58 persen impor LNG berasal dari Timur Tengah

  • Singapura: sekitar 27 persen impor LNG

  • China: sekitar 26,6 persen pasokan LNG

Ekonom dari Brown Brothers Harriman (BBH), Elias Haddad, memperingatkan konflik berkepanjangan dapat meningkatkan risiko stagflasi, yaitu kondisi perlambatan ekonomi yang disertai inflasi tinggi.

Negara yang paling berisiko mengalami dampak tersebut antara lain Jepang, India, Turki, dan Malaysia, sementara negara eksportir energi seperti Norwegia, Kanada, dan Meksiko dinilai relatif lebih aman. (*)

Example 300250