Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
EKONOMI & BISNISOTOMOTIF

Konflik Iran–AS Picu Lonjakan Harga Minyak, Industri Otomotif Indonesia Terancam Tekanan Biaya

126
×

Konflik Iran–AS Picu Lonjakan Harga Minyak, Industri Otomotif Indonesia Terancam Tekanan Biaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat dinilai berpotensi memberi dampak awal terhadap sektor otomotif di Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia serta potensi gangguan aktivitas ekspor menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi industri tersebut.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak global hingga USD100 per barel dapat meningkatkan biaya logistik serta memicu tekanan pada harga bahan bakar di dalam negeri.

“Jika harga minyak dunia menembus USD100 per barel, maka biaya logistik akan meningkat dan bisa berdampak pada harga BBM di dalam negeri,” ujar Yannes, Selasa (3/3/2026).

Biaya Logistik dan Ekspor Terancam

Menurut Yannes, kenaikan harga minyak juga berpotensi menekan profit margin industri otomotif nasional, khususnya yang bergantung pada ekspor kendaraan.

Saat ini sekitar 94 persen ekspor mobil Indonesia ditujukan ke kawasan ASEAN dan Amerika Latin. Beberapa negara tujuan utama antara lain Filipina (165.450 unit), Vietnam (52.180 unit), serta Amerika Latin (56.450 unit).

“Naiknya harga minyak membuat komponen utama ongkos pengiriman meningkat sehingga margin keuntungan perusahaan semakin menipis,” jelasnya.

Selain itu, kawasan Timur Tengah juga menjadi salah satu pasar ekspor penting bagi produk otomotif Indonesia. Oleh karena itu, ketegangan geopolitik di kawasan tersebut dinilai perlu diantisipasi pemerintah.

Jika harga minyak terus meningkat tanpa diikuti kenaikan harga kendaraan, daya saing mobil produksi Indonesia berpotensi melemah di pasar global.

Risiko Kenaikan Harga BBM

Lonjakan harga minyak global juga berpotensi berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Yannes mencontohkan jika harga BBM seperti Pertamax naik hingga sekitar Rp15.000 per liter, maka biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil akan meningkat signifikan.

Dalam kondisi tersebut, kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) dinilai menjadi alternatif yang lebih hemat biaya.

“Jika BBM naik, kendaraan listrik akan terlihat lebih ekonomis karena biaya operasionalnya hanya sekitar seperlima atau seperenam kendaraan bermesin bensin,” katanya.

Example 300250