Dilema Kebijakan BBM Subsidi
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menembus USD82 per barel berpotensi memicu tekanan pada harga BBM domestik.
Menurutnya, pemerintah menghadapi dilema dalam menentukan kebijakan harga BBM subsidi.
Jika harga BBM tidak dinaikkan, maka beban subsidi dalam APBN akan meningkat. Sebaliknya, jika harga dinaikkan, daya beli masyarakat dapat tertekan.
“Jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi, maka beban subsidi di APBN akan membengkak. Namun jika dinaikkan, daya beli masyarakat bisa turun dan membebani kelompok berpenghasilan rendah,” ujarnya.
Harga Minyak Berpotensi Tembus USD120
Sementara itu, Ekonom Celios, Nailul Huda, memproyeksikan harga minyak global masih berpotensi naik lebih tinggi.
Saat ini harga minyak dunia berada di kisaran USD79–USD80 per barel, meningkat dari sekitar USD65 per barel pada awal Februari 2026.
“Tidak menutup kemungkinan harga minyak global bisa menyentuh USD120 per barel, seperti ketika konflik Rusia–Ukraina memicu gejolak energi global,” kata Nailul.
Harga BBM Naik per Maret 2026
Seiring kenaikan harga minyak dunia, harga BBM di Indonesia juga mengalami penyesuaian pada awal Maret 2026.
Sejumlah penyedia BBM seperti Pertamina, Shell, Vivo, dan BP AKR tercatat menaikkan harga bahan bakar baik jenis bensin maupun solar.
Beberapa penyesuaian harga antara lain:
-
Pertamax 92: dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter
-
Shell Super: naik menjadi Rp12.390 per liter




















