MOJOKERTO | Sentrapos.co.id – Kasus keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) menu soto ayam di Kabupaten Mojokerto terus berkembang. Hingga Selasa (13/1/2026), jumlah korban tercatat 433 orang, terdiri dari pelajar, santri, hingga warga dewasa. Dari total tersebut, 140 orang masih menjalani perawatan inap di 11 fasilitas kesehatan, sementara ratusan lainnya telah dipulangkan.
Peristiwa ini mendorong dilakukannya investigasi gabungan lintas instansi, melibatkan Kementerian Kesehatan, Badan Gizi Nasional, pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum. Operasional dapur MBG penyedia makanan pun dihentikan sementara.
Korban Terus Bertambah Sejak Akhir Pekan
Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko, menjelaskan bahwa jumlah korban meningkat signifikan sejak Sabtu. Data mencatat korban awal sebanyak 152 orang, bertambah menjadi 261 orang pada Minggu, 349 orang pada Senin, dan kini mencapai 433 orang.
“Dari jumlah tersebut, 293 orang sudah dipulangkan, 25 menjalani rawat jalan, dan 140 korban masih dirawat inap,” ujar Teguh kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).
Teguh menegaskan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung penuh oleh BGN.
“Kami sudah sepakat dengan Badan Gizi Nasional, seluruh biaya pengobatan para korban ditanggung BGN,” tegasnya.
Korban rawat inap saat ini tersebar di 11 fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Prof dr Soekandar, RS Sumberglagah, RS Mawaddah, RSI Arofah, RS Kartini, RS Sido Waras, RSI Sakinah, serta sejumlah puskesmas di wilayah Mojokerto.
Rumah Sakit Utamakan Kemanusiaan
Direktur RSUD Prof dr Soekandar, dr Gigih Setijawan, menegaskan pihak rumah sakit sejak awal memprioritaskan penanganan medis tanpa mempersoalkan administrasi biaya.
“Kami tidak menanyakan pasien bayar pakai apa. Datang, langsung kami layani. Soal biaya, mengikuti instruksi dinas dan kebijakan selanjutnya,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Wakil Direktur Pelayanan Medis RSI Sakinah, dr Roisul Umam. Ia menyebut perwakilan BGN telah memastikan seluruh biaya perawatan ditanggung penuh.
“BGN sudah datang dan menyampaikan biaya ditanggung semuanya. Kami diminta mengirimkan invoice, berapa pun nilainya,” jelasnya.
Kemenkes Telusuri Penyebab Keracunan
Tim Kemenkes melalui Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit diterjunkan untuk menyelidiki sumber keracunan. Pemeriksaan dilakukan di sekolah penerima MBG serta dapur SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah di Kutorejo.
Tenaga Teknis Sanitasi Lingkungan Kemenkes, Izzi Ashari, menjelaskan bahwa secara fisik bangunan dan tata letak dapur telah memenuhi standar dasar. Namun, penyebab keracunan pangan bisa berasal dari banyak faktor.
“Kami masih mempelajari celahnya, apakah dari penerimaan bahan baku, proses pemasakan, pendistribusian, atau saat makanan diterima di sekolah. Karena hasil laboratorium belum keluar,” jelas Izzi.
Ia menambahkan, aspek penyimpanan makanan menjadi salah satu titik krusial.
“Jika penyimpanan tidak sesuai SOP, misalnya lebih dari empat jam tanpa pengaturan suhu yang tepat, risiko keracunan bisa meningkat,” terangnya.
Dapur MBG Belum Kantongi Sertifikat Higiene
Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui dapur SPPG tersebut belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Betul, belum punya SLHS, tetapi sudah mengajukan dan masih dalam proses di Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto,” ungkap Izzi.
Tim Kemenkes bersama Dinas Kesehatan setempat melakukan pendampingan dan pembinaan, termasuk menelusuri proses pencucian peralatan, sumber bahan baku, hingga sistem pengelolaan dapur.
Operasional Dihentikan Sementara
Selama proses investigasi berlangsung, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03. Dapur tersebut sebelumnya memproduksi sekitar 2.679 porsi MBG per hari untuk 22 sekolah dan pondok pesantren di wilayah Kutorejo dan Mojosari.
Operasional dapur berpotensi dihentikan permanen apabila terbukti melanggar ketentuan yang berlaku.
Sebelumnya, MBG menu soto ayam dibagikan pada Jumat (9/1/2026). Gejala keracunan mulai dirasakan pada Jumat malam hingga Sabtu pagi, dengan keluhan pusing, mual, muntah, demam, dan diare.
Hingga kini, penyelidikan gabungan yang melibatkan Polres Mojokerto, Kodim 0815, Dinas Kesehatan, Kemenkes, dan BGN masih terus berjalan sambil menunggu hasil uji laboratorium sebagai penentu utama penyebab keracunan massal tersebut. *




















