Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
WISATA & KULINER

Kupat Jembut Pedurungan, Tradisi Syawalan Unik di Semarang yang Penuh Makna dan Rasa

32
×

Kupat Jembut Pedurungan, Tradisi Syawalan Unik di Semarang yang Penuh Makna dan Rasa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEMARANG | Sentrapos.co.id — Tradisi Kupat Jembut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Syawalan di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, selama puluhan tahun. Setiap tanggal 8 Syawal, warga berkumpul untuk menikmati sajian khas ini sambil menandai momen saling memaafkan.

“Tradisi ini memang ditandai dengan dibelahnya ketupat sebagai tanda melepaskan jabat tangan dan Lebaran telah selesai. Warga sudah saling memaafkan,” ujar Imam Masjid Roudhotul Muttaqin, Munawir, Sabtu (28/3/2026).

Kupat jembut memiliki ciri khas pada bagian tengah yang dibelah simetris, diisi dengan tauge, parutan kelapa, dan sambal merah. Aroma kencur yang kuat terasa saat dicium dan menonjol di lidah saat dicicipi. Tekstur ketupat yang lembut berpadu dengan renyahnya isian, menciptakan sensasi rasa gurih, pedas, manis, dan sedikit asin yang khas.

Ukuran ketupat yang sebesar empat ruas jari pria dewasa cukup mengganjal perut. Biasanya, dua hingga tiga ketupat sudah cukup sebagai porsi sarapan pagi bagi warga.

Sejarah tradisi ini bermula pada tahun 1950-an, ketika warga yang mengungsi dari Purwodadi ke Pedurungan usai Perang Dunia II membuat ketupat sederhana sebagai bentuk kesederhanaan dan simbol kebersamaan. Nama “jembut” sendiri masih menjadi misteri, namun diyakini sebagai keunikan lokal yang mudah diingat oleh masyarakat.

Acara Syawalan ini juga diramaikan oleh warga yang memberikan sejumlah uang kepada anak-anak, menambah keceriaan perayaan dan menjaga kelestarian budaya setempat.

“Terus perang selesai sekitar tahun 50-an. Warga pulang waktu itu menjelang puasa dan suasana masih sederhana, dibuatlah kupat yang sederhana dibelah tengahnya dan dikasih tauge dan kelapa,” tambah Munawir.

Tradisi Kupat Jembut kini menjadi salah satu ikon kuliner dan budaya khas Semarang, menarik warga lokal maupun wisatawan yang ingin merasakan langsung cita rasa dan makna Syawalan di Pedurungan. (*)


Poin Utama Berita

  1. Kupat Jembut menjadi tradisi Syawalan di Pedurungan, Semarang selama puluhan tahun.
  2. Ketupat dibelah simetris, diisi tauge, kelapa parut, dan sambal merah dengan aroma kencur kuat.
  3. Tradisi ini melambangkan saling memaafkan dan diadakan setiap 8 Syawal.
  4. Sejarahnya dimulai tahun 1950-an saat warga mengungsi dari Purwodadi pasca Perang Dunia II.
  5. Tradisi ini juga diramaikan dengan pemberian uang kepada anak-anak, menjaga nilai budaya lokal.