JAKARTA | Sentrapos.co.id – Kursi Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI kini menjadi sorotan publik setelah ditinggalkan Letjen TNI Yudi Abrimantyo, menyusul kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus.
Hingga saat ini, Mabes TNI belum mengumumkan secara resmi sosok pengganti untuk mengisi jabatan strategis di bidang intelijen militer tersebut. Kondisi ini memicu berbagai spekulasi di kalangan publik dan pengamat pertahanan.
Jabatan Strategis yang Krusial
Kabais TNI merupakan posisi vital dalam struktur pertahanan negara. Lembaga ini berperan dalam menyusun serta menyediakan intelijen strategis bagi pimpinan TNI dan pemerintah.
Secara tradisi, jabatan Kabais diisi oleh perwira tinggi berpangkat letnan jenderal (bintang tiga), dengan latar belakang kuat di bidang intelijen dan operasi militer.
“Pergantian Kabais merupakan langkah penting karena berkaitan langsung dengan stabilitas dan arah intelijen pertahanan nasional,” demikian penilaian sejumlah pengamat militer.
Sejumlah nama perwira tinggi disebut-sebut berpeluang mengisi posisi tersebut, termasuk mereka yang saat ini menjabat sebagai Pangdam, staf ahli Panglima TNI, maupun perwira dari satuan elite seperti Kopassus.
Bosco Haryo Yunanto Mencuat
Di antara kandidat yang menguat, nama Mayjen TNI Bosco Haryo Yunanto menjadi sorotan utama. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Kepala BAIS TNI.
Posisinya sebagai orang nomor dua di lembaga intelijen strategis tersebut dinilai menjadikannya kandidat paling logis, baik sebagai Pelaksana Tugas (Plt) maupun pejabat definitif.
“Penunjukan dari internal BAIS dinilai mampu menjaga kesinambungan organisasi dan stabilitas intelijen TNI,” ungkap sumber internal.
Rekam Jejak di Dunia Intelijen
Bosco Haryo Yunanto dikenal sebagai perwira tinggi TNI Angkatan Darat dengan pengalaman panjang di bidang intelijen militer.
Lulusan Akademi Militer (Akmil) 1994 dari kecabangan Infanteri ini telah menduduki berbagai posisi strategis, di antaranya:
- Dirlitbang Pusat Intelijen Angkatan Darat
- Asisten Intelijen Kasdam XVII/Cenderawasih
- Waasintel Panglima TNI
- Kepala Staf Kogabwilhan I
- Dansatintel hingga Sekretaris BAIS TNI
Kariernya yang konsisten di bidang intelijen membuatnya dinilai memiliki kapasitas kuat dalam analisis keamanan dan strategi pertahanan nasional.
Dampak Kasus Andrie Yunus
Pergantian Kabais TNI tidak lepas dari kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang terjadi pada 12 Maret 2026 di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Korban mengalami luka serius, termasuk luka bakar lebih dari 20 persen dan gangguan penglihatan.
Empat prajurit TNI yang berdinas di BAIS diduga terlibat dalam kasus tersebut dan saat ini telah diamankan oleh Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI.
“Sebagai bentuk pertanggungjawaban, telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kabais,” ujar Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah.
Namun, belum ada kejelasan apakah Letjen Yudi mengundurkan diri atau dicopot dari jabatannya.
Menunggu Keputusan Panglima TNI
Hingga kini, publik masih menanti keputusan resmi dari Panglima TNI terkait penunjukan Kabais yang baru.
Pergantian ini dinilai krusial, tidak hanya untuk menjaga kredibilitas institusi, tetapi juga memastikan profesionalisme dan integritas dalam tubuh intelijen militer.
Kasus ini sekaligus menjadi momentum evaluasi internal TNI, khususnya dalam pengawasan personel dan penegakan disiplin di lingkungan intelijen strategis. (*)




















