JAKARTA | Sentrapos.co.id — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Lestari Moerdijat, mengingatkan pemerintah dan masyarakat terhadap meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental pada siswa sekolah di Indonesia.
Politikus Partai NasDem tersebut meminta pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memperkuat program deteksi dini kesehatan mental di lingkungan sekolah sebagai langkah strategis menjaga kualitas generasi muda.
“Langkah mengatasi secara menyeluruh ancaman kesehatan jiwa siswa di sekolah harus mendapat dukungan bersama,” ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Guru Diminta Dibekali Kemampuan Skrining Mental
Menurut Lestari, guru memiliki peran penting dalam mendeteksi lebih awal potensi gangguan kesehatan mental pada siswa karena mereka berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu segera merealisasikan program pembekalan kemampuan guru untuk melakukan skrining kesehatan mental siswa.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan siswa yang mengalami masalah psikologis dapat segera mendapatkan pendampingan dan penanganan yang tepat.
Survei Kemenkes: 34,9 Persen Remaja Berisiko
Lestari mengungkapkan bahwa hasil survei Kementerian Kesehatan menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan terkait kesehatan mental remaja di Indonesia.
“Sebanyak 34,9 persen remaja usia 10–17 tahun berisiko mengalami masalah mental. Namun dari jumlah tersebut, hanya 2,6 persen yang mendapatkan penanganan profesional,” jelasnya.
Data tersebut menunjukkan masih rendahnya akses serta kesadaran terhadap layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja.
Peran Orang Tua Sangat Penting
Selain guru, Lestari juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam melakukan deteksi dini terhadap kondisi psikologis anak.
Ia menilai interaksi orang tua dengan anak di rumah dapat menjadi sarana penting untuk mengenali perubahan perilaku yang mengarah pada gangguan kesehatan mental.
“Peran para orang tua yang berinteraksi dengan putera puterinya di keluarga juga penting dalam melakukan skrining kesehatan jiwa anak-anaknya,” ujarnya.
Pemerintah Siapkan Program Skrining di Sekolah
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menjalankan program skrining kesehatan mental di sekolah.
Program tersebut bertujuan membekali para guru dengan kemampuan mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada siswa.
Berdasarkan survei Kemenkes pada awal 2026, sekitar 5 persen anak dan remaja di Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, termasuk depresi dan kecemasan.
Langkah deteksi dini di sekolah diharapkan dapat menjadi strategi preventif untuk melindungi kesehatan mental generasi muda Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. (*)




















