BANDUNG | Sentrapos.co.id – Bencana tanah longsor melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Peristiwa tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya delapan orang, sementara 82 warga lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.
Kecamatan Cisarua secara geografis berada di bagian utara Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, dengan luas wilayah sekitar 55,47 kilometer persegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kecamatan Lembang, Kecamatan Parongpong, serta Kecamatan Cipatat.
Secara administratif, Kecamatan Cisarua terdiri dari delapan desa, yakni Pasirhalang, Pasirlangu, Jambudipa, Kertawangi, Tugumukti, Padaasih, Cipada, dan Sadangmekar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Kecamatan Cisarua pada 2024 tercatat sebanyak 84.651 jiwa. Desa Jambudipa menjadi wilayah dengan sebaran penduduk terpadat, ditandai dengan jumlah RW dan RT terbanyak di kecamatan tersebut.
Kecamatan Cisarua merupakan bagian dari kawasan dataran tinggi Bandung Barat dengan ketinggian antara 900 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Beberapa lereng pegunungan bahkan mendekati ketinggian 1.500 mdpl. Kondisi wilayah yang berbukit hingga pegunungan dengan dominasi lereng curam menjadikan kawasan ini rawan bencana gerakan tanah.
Jenis tanah di Cisarua didominasi tanah vulkanik yang dikenal subur. Namun, letaknya yang berdekatan dengan kawasan patahan aktif Sesar Lembang membuat struktur batuan di wilayah ini relatif lebih lemah dan rentan terhadap pergerakan tanah.
Perhatian terhadap Kecamatan Cisarua kembali meningkat setelah longsor besar melanda Desa Pasirlangu. Bencana tersebut dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Bandung Barat selama beberapa hari berturut-turut. Material tanah, batu, dan pepohonan dilaporkan menimbun sedikitnya 30 rumah warga di lereng Gunung Burangrang.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 37 kepala keluarga terdampak dengan total warga terdampak mencapai 114 orang. Proses evakuasi dan pencarian korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di tengah kondisi medan yang sulit.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir. BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem, dengan potensi hujan lebat yang diperkirakan berlangsung hingga sepekan.
Kombinasi faktor topografi curam, karakter tanah vulkanik, serta intensitas hujan yang tinggi dinilai meningkatkan risiko longsor di kawasan Bandung Barat. Para ahli menilai upaya mitigasi, seperti penataan tata ruang yang berkelanjutan dan rehabilitasi vegetasi lereng, menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana serupa di masa mendatang. (*)




















