Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
NASIONAL

Menag Nasaruddin Umar: Salat Bangun Kesalehan Spiritual, Sosial, dan Kepedulian Lingkungan

28
×

Menag Nasaruddin Umar: Salat Bangun Kesalehan Spiritual, Sosial, dan Kepedulian Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | Sentrapos.co.id — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa salat tidak hanya bermakna kesalehan spiritual, tetapi juga mengandung nilai kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Pesan tersebut disampaikan dalam arahannya menyambut Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 M di Jakarta, Kamis (15/01/2026).

Menag menjelaskan, peristiwa Isra Mikraj merupakan momentum penting ketika Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu. Ibadah ini, menurutnya, tidak sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi pembentukan kepribadian Muslim yang beriman, berdisiplin, dan berakhlak mulia.

“Salat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Menag.

Salat Cegah Kemungkaran dan Bangun Tanggung Jawab Sosial

Menag menegaskan, salat yang dikerjakan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan tanggung jawab sosial dan ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

“Salat yang dilakukan secara benar bukan hanya menguatkan hubungan dengan Allah, tetapi juga membentuk sikap peduli terhadap sesama dan lingkungan,” tegasnya.

Thaharah Ajarkan Kebersihan dan Etika Lingkungan

Lebih lanjut, Menag menyoroti prinsip thaharah (bersuci) sebagai syarat sah salat. Prinsip ini, menurutnya, mengajarkan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan, tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada lingkungan sekitar.

Selain itu, gerakan dan tata tertib salat mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, serta pengendalian diri—nilai-nilai penting dalam mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.

Islam sebagai Fondasi Etika Ekologis

Menag menekankan bahwa esensi Isra Mikraj menunjukkan Islam sebagai fondasi etika ekologis. Konsep tauhid, lanjutnya, mengimplikasikan kesatuan ciptaan (unity of creation), bahwa alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang merefleksikan kebesaran Allah SWT.

“Merusak alam berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah. Sebaliknya, menjaga dan merawat lingkungan merupakan manifestasi keimanan dan ketaatan kepada-Nya,” jelas Menag.

Seruan Kesalehan Utuh di Tengah Krisis Lingkungan

Melalui peringatan Isra Mikraj 1447 H, Menag mengajak umat Islam menjadikannya sebagai momentum refleksi untuk meneguhkan kembali peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia menilai, krisis lingkungan yang dihadapi saat ini menuntut kesalehan yang utuh.

“Kesalehan sejati bukan hanya yang menghubungkan kita ke langit, tetapi juga yang menjaga bumi tempat kita berpijak,” ujarnya.

Menag berharap, peringatan Isra Mikraj tahun ini menjadi titik balik untuk menguatkan kesalehan spiritual, kesalehan sosial yang menjunjung keadilan dan kemaslahatan, serta kesalehan ekologi yang diwujudkan melalui kepedulian nyata terhadap kelestarian alam. (*)

Example 300250