Dari sisi eksternal, stabilitas sektor keuangan juga dinilai terjaga. Nilai tukar rupiah disebut hanya mengalami depresiasi sekitar 0,3 persen saat terjadi gejolak global.
Selain itu, indikator risiko negara seperti Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun relatif stabil, sementara aliran modal asing tetap menunjukkan tren positif.
“Investor yang benar-benar menaruh uangnya masih percaya dengan fundamental ekonomi Indonesia,” ujar Purbaya.
Koordinasi Fiskal dan Moneter Dijaga
Pemerintah, lanjut Purbaya, terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia.
Data terbaru menunjukkan base money (M0) pada Februari 2026 tumbuh 14,2 persen, sementara kredit perbankan meningkat sekitar 10 persen pada Januari dan diperkirakan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan.
“Dengan koordinasi fiskal dan moneter yang baik, kita menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap kuat,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki pengalaman menghadapi berbagai gejolak global, termasuk lonjakan harga minyak dunia.
“Selama ini kita punya pengalaman mengendalikan dampak gejolak global, termasuk ketika harga minyak naik tinggi. Jadi kita tidak perlu takut,” pungkasnya.
Pemerintah optimistis dengan berbagai indikator positif tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global. (*)




















