JAKARTA | Sentrapos.co.id – Sosok Mojtaba Khamenei menjadi sorotan dunia setelah dilaporkan tidak pernah muncul di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pada awal konflik melawan Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah eskalasi perang yang terus berlangsung sejak akhir Februari 2026, keberadaan pemimpin tertinggi Iran itu memicu spekulasi luas, termasuk di kalangan analis keamanan global.
Tak Pernah Tampil, Hanya Kirim Pesan Tertulis
Sejak dilantik sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei belum terlihat secara langsung di ruang publik.
Ia hanya menyampaikan pesan tertulis dalam perayaan Tahun Baru Persia (Nowruz), yang kemudian dibacakan melalui televisi nasional Iran.
“Saat ini, karena persatuan yang terjalin di antara kalian, musuh telah dikalahkan,” demikian isi pernyataan Mojtaba Khamenei.
Dalam pesan tersebut, ia menegaskan bahwa Iran tetap bertahan menghadapi tekanan militer dari pihak lawan.
Klaim Serangan AS-Israel Salah Perhitungan
Mojtaba menilai serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel didasarkan pada asumsi keliru.
Menurutnya, kedua negara tersebut memperkirakan serangan awal akan memicu kepanikan dan mengguncang stabilitas pemerintahan Iran.
“Itu adalah kesalahan besar,” tegasnya, merujuk pada kalkulasi strategi lawan.
Namun, ia mengklaim kondisi dalam negeri Iran tetap terkendali dan bahkan menyebut adanya keretakan di pihak musuh.
Sistem Politik Iran Dinilai Tahan Krisis
Sejumlah analis menilai Iran memiliki sistem politik yang dirancang untuk menghadapi situasi darurat, termasuk kemungkinan kekosongan kepemimpinan.
Hal ini membuat negara tetap berjalan meski kehilangan figur penting dalam konflik.
Di sisi lain, Mojtaba juga membantah keterlibatan Iran dalam sejumlah serangan di kawasan, termasuk insiden di Turki dan Oman.
Ia menilai isu tersebut sengaja dihembuskan untuk merusak hubungan diplomatik antarnegara di kawasan.
Presiden Iran Serukan Stabilitas Kawasan
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak berniat mengembangkan senjata nuklir ataupun memicu konflik lebih luas.
Ia juga menyerukan pembentukan sistem keamanan regional tanpa campur tangan pihak luar.
“Iran tidak mencari konflik, tetapi akan tetap mempertahankan kedaulatan,” tegasnya.
Spekulasi Global Kian Menguat
Absennya Mojtaba Khamenei di tengah perang memicu berbagai spekulasi, mulai dari alasan keamanan hingga efektivitas kepemimpinannya dalam situasi krisis.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel disebut masih berupaya memetakan posisi strategis kepemimpinan Iran di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Kondisi ini semakin mempertegas bahwa perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam dimensi psikologis dan strategi informasi global. (*)




















