TEHERAN | Sentrapos.co.id – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan mengalami luka dan cacat di bagian wajah. Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan dari pihak Amerika Serikat mengenai kemampuan dan legitimasi Mojtaba dalam memimpin Iran.
Pernyataan itu disampaikan Hegseth setelah pesan perdana Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran disiarkan melalui televisi pemerintah Iran pada Kamis (12/3/2026).
Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Senin (9/3/2026), menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang sebelumnya dilaporkan wafat.
Dalam pernyataannya, Menteri Pertahanan AS menilai kondisi Mojtaba yang disebut mengalami luka memunculkan keraguan terhadap kapasitas kepemimpinannya.
“Kita tahu bahwa pemimpin yang disebut-sebut itu sedang terluka dan kemungkinan mengalami cacat wajah,” ujar Pete Hegseth seperti dikutip Reuters.
Hegseth juga menyoroti bahwa pesan pertama Mojtaba kepada publik hanya disampaikan dalam bentuk pernyataan tertulis, tanpa rekaman suara maupun video.
“Dia mengeluarkan pernyataan kemarin. Pernyataan yang lemah sebenarnya, tetapi tidak ada suara dan tidak ada video. Itu hanya pernyataan tertulis,” katanya.
Menurut Hegseth, hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai legitimasi kepemimpinan Mojtaba Khamenei di Iran.
“Iran memiliki banyak kamera dan banyak perekam suara. Mengapa hanya pernyataan tertulis? Ayahnya meninggal, dia takut, dia terluka, dia buron, dan tidak memiliki legitimasi,” tambahnya.
Namun, secara terpisah seorang pejabat Iran membantah spekulasi tersebut. Ia menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei hanya mengalami luka ringan, tetapi tetap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin tertinggi negara.
Dalam pesan perdananya, Mojtaba Khamenei menegaskan Iran akan terus mengambil langkah strategis dalam menghadapi konflik regional yang sedang berlangsung.
Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan dunia adalah komitmennya untuk tetap menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi titik vital distribusi energi global.
“Selat Hormuz akan terus ditutup untuk menekan musuh-musuh Iran,” kata Mojtaba dalam pernyataan resminya.
Selain itu, Mojtaba juga memperingatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah agar menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka, atau berisiko menjadi sasaran serangan Iran.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran tetap ingin menjaga hubungan persahabatan dengan negara-negara Arab di kawasan tersebut.
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dilakukan oleh Majelis Ahli, lembaga yang beranggotakan 88 ulama senior yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Sepanjang sejarah Iran modern, Majelis Ahli baru satu kali menangani proses transisi kepemimpinan, yakni pada 1989 ketika Ali Khamenei dipilih menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Mojtaba Khamenei sendiri lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, Iran timur, dan merupakan salah satu dari enam anak Ayatollah Ali Khamenei.
Perkembangan situasi ini semakin mempertegang dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya.
(*)




















