ISLAMABAD | Sentrapos.co.id — Upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu. Setelah melalui perundingan maraton selama 21 jam, kedua negara gagal mencapai kesepakatan dalam negosiasi yang dimediasi Pakistan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengungkapkan bahwa pembicaraan belum menghasilkan titik temu, terutama terkait isu krusial program nuklir Iran.
“Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, baik sekarang maupun di masa depan. Namun, komitmen itu belum kami lihat,” tegas Vance kepada wartawan, Minggu (12/4).
Perundingan ini menjadi momen bersejarah karena merupakan tatap muka pertama antara AS dan Iran sejak Revolusi Islam 1979. Delegasi AS dipimpin langsung oleh JD Vance, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Awalnya, suasana negosiasi disebut berlangsung positif. Namun, seiring berjalannya waktu, dinamika berubah dan ketegangan meningkat.
“Terjadi perubahan suasana dari kedua belah pihak. Diskusi sempat memanas,” ungkap sumber dari Pakistan.
Salah satu hambatan utama dalam perundingan adalah penolakan Iran terhadap syarat AS terkait penghentian pengembangan senjata nuklir.
Selain itu, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan strategis, termasuk pencairan aset miliaran dolar yang dibekukan di Qatar, kendali atas Selat Hormuz, hingga ganti rugi perang.
Selat Hormuz sendiri menjadi isu sensitif dalam negosiasi. Jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia tersebut sempat ditutup oleh Iran, memicu kekhawatiran global.
Meski belum mencapai kesepakatan, Iran menyatakan negosiasi akan tetap berlanjut melalui jalur teknis dengan pertukaran dokumen antar kedua pihak.
“Negosiasi akan terus dilanjutkan meskipun masih ada perbedaan,” demikian pernyataan resmi pemerintah Iran.
Sementara itu, delegasi AS dipastikan kembali ke Washington setelah perundingan berakhir tanpa hasil konkret.
Kebuntuan ini menandai bahwa jalan menuju perdamaian antara kedua negara masih panjang dan penuh tantangan, terutama dalam menyatukan kepentingan strategis yang saling bertolak belakang. (*)
Poin Utama Berita
- Negosiasi damai AS dan Iran berlangsung selama 21 jam tanpa kesepakatan
- JD Vance menyebut isu nuklir jadi hambatan utama
- Iran menolak syarat penghentian pengembangan senjata nuklir
- Suasana perundingan sempat memanas setelah awalnya positif
- Iran menuntut pencairan aset miliaran dolar di Qatar
- Selat Hormuz menjadi isu strategis dalam negosiasi
- Perundingan pertama sejak Revolusi Islam 1979
- Negosiasi akan dilanjutkan melalui jalur teknis
- Delegasi AS kembali ke Washington tanpa hasil konkret

















