ISLAMABAD | Sentrapos.co.id — Di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik regional menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari, Pakistan secara mengejutkan muncul sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Pemerintah Islamabad menyatakan kesiapannya untuk menjembatani dialog kedua negara, bahkan menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan damai.
“Pakistan menyambut baik dan sepenuhnya mendukung upaya dialog guna mengakhiri perang di Timur Tengah,” tegas Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Langkah ini dinilai tidak lazim, mengingat peran mediasi antara AS dan Iran sebelumnya lebih sering dipegang negara-negara Timur Tengah seperti Qatar dan Oman.
Diplomasi Senyap dan Negosiasi Jalur Belakang
Pejabat Pakistan mengungkapkan bahwa upaya ini bukan langkah mendadak. Diplomasi senyap telah dilakukan selama beberapa pekan terakhir, meski detailnya belum diungkap ke publik.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengonfirmasi bahwa komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran sedang berlangsung melalui perantara Islamabad.
“Dialog dan diplomasi adalah satu-satunya jalan ke depan,” ujar Dar.
Ia juga menyebut proposal gencatan senjata dari AS yang berisi 15 poin telah disampaikan kepada pihak Iran dan saat ini tengah dipertimbangkan.
Pakistan Perkuat Posisi sebagai Mediator
Peran Pakistan semakin kuat setelah utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengakui keterlibatan Islamabad dalam proses mediasi. Bahkan, pertemuan antara perwakilan kedua negara disebut-sebut dapat terjadi dalam waktu dekat.
Sejumlah skenario pertemuan mulai mencuat, mulai dari pertemuan antara pejabat tinggi diplomatik hingga tokoh politik penting dari kedua negara.
Jaringan Diplomatik Jadi Kunci
Keberhasilan Pakistan masuk sebagai mediator tidak lepas dari posisi strategisnya yang memiliki hubungan baik dengan kedua pihak.
Di satu sisi, militer Pakistan memiliki akses langsung ke Washington. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, bahkan diketahui telah beberapa kali bertemu dengan Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, Pakistan juga dipercaya mewakili kepentingan diplomatik Iran di Amerika Serikat, menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi dari Teheran.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif juga telah melakukan komunikasi langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, memperkuat posisi Islamabad sebagai penengah yang kredibel.
Kepentingan Ekonomi dan Stabilitas Regional
Selain faktor diplomasi, Pakistan memiliki kepentingan besar dalam stabilitas kawasan. Negara ini sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah dan memiliki jutaan warga yang bekerja di kawasan tersebut.
Ketegangan berkepanjangan dinilai dapat berdampak langsung terhadap ekonomi Pakistan, termasuk aliran devisa dari pekerja migran.
Dengan berbagai faktor tersebut, Pakistan kini berada di garis depan upaya perdamaian dalam salah satu konflik paling sensitif di dunia saat ini. (*)
Poin Utama Berita
- Pakistan muncul sebagai mediator konflik AS-Iran
- Tawarkan diri jadi tuan rumah perundingan damai
- Diplomasi senyap telah berlangsung beberapa pekan
- Proposal gencatan senjata 15 poin dari AS ke Iran
- Pakistan punya hubungan kuat dengan kedua pihak
- AS dan Iran disebut berpotensi bertemu dalam waktu dekat
- Peran Pakistan diperkuat faktor ekonomi dan geopolitik
- Konflik Timur Tengah berpotensi meluas



















